Gandeng Global Peace Foundation Indonesia dan Fuji Suiso, Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Gelar Shari

By Santri Ekonomi 25 Nov 2019, 21:31:23 WIB Ekonomi
Gandeng Global Peace Foundation Indonesia dan Fuji Suiso, Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Gelar Shari

Gambar : Pesantren Ekonomi Darul Uchwah kembali gelar sharing kewirausahaan untuk yang kesekian kalinya. Tak tanggung - tanggung, pada kesempatan kali ini pesantren dengan background ekonomi ini menggandeng Global Peace Fundation Indonesia dan juga Fuji Suiso.(25/9)


Pesantren Ekonomi Darul Uchwah kembali gelar sharing kewirausahaan untuk yang kesekian kalinya. Tak tanggung - tanggung, pada kesempatan kali ini pesantren dengan background ekonomi ini menggandeng Global Peace Fundation Indonesia dan juga Fuji Suiso.(25/9)


Global Peace Fundation Indonesia merupakan sebuah organisasi nirlaba internasional yang mempunyai misi untuk mempromosikan “pendekatan inovatif berbasis nilai untuk pembangunan perdamaian, serta berpandu pada visi One Family under God.

Kegiatan yang diselenggarakan di gedung Pesantren Ekonomi Darul Uchwah ini terlihat sangat menarik dan banyak diminati. Pasalnya ruang kegiatan yang telah dipersiapkan panitia sejak pagi hari terlihat dipadati oleh kawula muda dari beberapa background, diantaranya adalah mahasantri pesantren ekonomi darul uchwah, mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia dan beberapa Enterpreneur muda lainnya.


Dalam kesempatan kali ini Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Nyai Hj. Mufidzah turut menghadiri kegiatan yang memberi dampak positif bagi para santrinya. Disamping itu, hadir pula Direktur Kemahasiswaan Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Bapak Akhmad Nurul Huda, M.Pd, serta motivator - motivator muda Indonesia yang memiliki  banyak prestasi di tingkat nasional maupun internasional, mereka adalah I Gede Pandu Wirawan, penerima beasiswa Australia Awards dan juga Mhd Handika Subakti, penerima beasiswa LPDP.

Dalam kesempatan kali ini I Gede Pandu Wirawan berkesempatan untuk berbagi cerita tentang pengalaman semasa hidupnya. Mulai sejak kecil hingga akhirnya mampu mendapat beasiswa Australia Awards. Pandu menjelaskan bahwasanya untuk bisa kuliah hingga ke luar negri tidak harus berasal dari orang kaya saja, karna kaya atau tidaknya seseorang mereka tetap punya hak untuk bercita - cita dan menggapai cita - cita tersebut.
"Teman - teman, ketika anda punya mimpi yang sangat tinggi jangan pernah takut, kejar terus mimpi tersebut. Saya bisa kuliah ke luar negri karna mimpi dan tekad saya, saya bukan anak orang kaya bahkan saya bukan anak dari keluarga yang baik - baik saja, saya adalah anak dari keluarga yang broken home, tetapi disini saya tunjukkan kepada dunia bahwasanya saya mampu meraih apa yang saya cita - citakan." Ujar Pandu dalam rangkaian kata motivasi nya.


Selaras dengan Pandu, Mhd Handika Subakti yang merupakan seorang santri dari salah satu pesantren di Medan Sumatera Utara ternyata memiliki kisah yang tak kalah menarik. Beliau berhasil melanjutkan kuliahnya lewat beasiswa LPDP yang ia peroleh.


Motivator muda yang sempat menjuarai lomba makalah Al Qur'an tingkat nasional pada tahun 2018 ini mengajak para santri untuk melanjutkan pendidikan mereka, karna di tahun ini bagi santri yang dianggap sudah mumpuni untuk melanjutkan pendidikannya akan dididik dan secara langsung mendapat kursus bahasa Inggris gratis dari LPDP selama 3 bulan. Maka tidak ada lagi alasan bagi para santri untuk tidak melanjutkan pendidikan nya.

Dipertengahan dialog tersebut, salah seorang santri asal Riau, Hakim Saputra sharing tentang pengalaman yang ia alami, dimana seorang santri yang juga Mahasiswa ini ternyata berkecimpung dalam beberapa organisasi baik internal maupun eksternal kampus, akan tetapi sulit untuk mengimbangi ketiga kewajiban tersebut. Maka, dengan singkat Handika menjelaskannya bahwasanya tidak ada yang sulit ketika seseorang aktif dalam beberapa hal, hanya saja mereka perlu mengatur focus management dalam hidup mereka.


"Ketika seseorang memutuskan untuk menjadi mahasiswa sekaligus santri dan juga aktivis, sejatinya tidak ada yang salah. Tidak ada yang harus dikorbankan ataupun dibagi, hanya saja mereka perlu menentukan fokus tujuan dari ketiga hal tersebut. Mereka harus punya tujuan pencapaian yang pasti, tidak ada yang harus dikalahkan karna  mahasiswa,santri dan aktivis adalah salah satu jembatan untuk melanjutkan pendidikan.semunya butuh proses, tidak ada yang instan, karna hidup kita itu menyambung titik satu dengan titik yang lainnya." Tutur Handika dalam penjelasan nya.


Selanjutnya, pada tahap akhir Mr. Hideo Kawabata selaku CEO Fuji Suiso yang dihadirkan langsung dari Jepang tanpa pamrih dan dengan rendah hati mengajak seluruh peserta untuk sharing dengannya mengenai kewirausahaan baik yang ada di Indonesia ataupun di Jepang. Dalam penyampaiannya, Mr. Kawabata berpesan kepada para entrepreneur muda agar tidak mudah menyerah dalam berwirausaha,  dan tidak mudah goyah, agar mampu menjadi entrepreneur muda yang sukses dan tangguh.

(Penulis : Dea Oktaviana)




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment