Sejarah

By Santri Ekonomi 07 Apr 2014, 13:10:57 WIB

 

Setelah Kiai marsudi menikah dengan Ny. Mufizah, beliau berkeinginan mendirikan pesantren. Saat itu beliau memiliki 2 petak tanah yang sengaja diproyeksikan untuk mendirikan pesantren. Yang pertama berada di Bekasi. Namun, akses jalan menuju tempat tersebut sangat sulit ditambah trek yang harus dilalui jeblok dll. Tanah yang kedua di daerah Rumpin, Bogor, disana cukup strategis dan juga sudah terdapat sebuah masjid.

Karena kebimbangan itulah yang akhirnya membawa Kiyai Marsudi sowan kepada KH. Imam Muzani, Pengasuh PP. Darussa’adah Kebumen agar berkenan ke Jakarta dan melakukan isthikhoroh. Tanah mana yang terlebih dahulu akan dibangun pesantren. Pada keesokan harinya, KH. Muzani menyampaikan hasil isthikhoroh beliau kepada Kiai Marsudi “Yang di Banten bangun terlebih dahulu”. KH Muzani menyampaikannya dengan tegas, akhirnya dengan awal yang cukup berat hati, Kiai Marsudi memfokuskan untuk membangun pesantren di Bekasi, maklum saja karena akses menuju pesantren tersebut bisa dibilang terjal. Walaupun disisi lain beliau juga tetap  membangun tanah yang ada di Rumpin, Bogor. Benar saja, pesantren yang ada di Bekasi malah terlebih dahulu berhasil berdiri, terdapat sekolah, asrama, serta terlebih dahulu ada santrinya.

Pada awal pernikahan Kiai Marsudi, beliau masih bermukim di sebuah rumah kontrakan. Tidak beberapa lama setelah itu datanglah 4 orang santri asal Banyuwangi, disusul dengan banyaknya Kiai-Kiai yang menitipkan para putranya kepada beliau. Salah satunya adalah Gus Fikri putra KH. Hasbullah Badlawi Cilacap, Gus Luham putra Kiai Abu Sufyan serta Gus Nasrullah putra KH. Dairobi Kebumen, “Walapun saya merasa belum bisa, tapi saya niati khidmah kepada para Kiai. Mungkin hal itu (para Kiai menitipkan putra-putranya kepada Kiai Marsudi) menjadi wasilah para Kiai memberikan luberan berkahnya untuk saya dan keluarga. Walupun Gus-Gus itu nyeleneh sama uniknya masyaallah.” Cetus Kiai Marsudi. Setelah ada 4 santri asal Banyuwagi dan beberapa Gus, akhirnya Kiai Marsudi memutuskan untuk membeli sebuah rumah satu pintu di samping rumah kontrakan beliau ysng terdahulu. Di rumah satu pintu itulah Kiai Marsudi menggembleng para santri-santrinya.

Seiring berjalannya waktu, tepatnya pada tahun 1999 saat Gus Dur menjadi Presiden, santri Kiai Marsudi semakin banyak dengan didirikannya STAINU (Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama) yang diprakarsai oleh Gus Dur. Karena saat itu kampus yang terdapat di komplek PP. Ash-Shidiqiyah belum terdapat asrama, maka para mahasiswa nyantri di Kiai Marsudi. Praktis, santri Pesantren Ekonomi Darul Uchwah benar-benar overload. Hingga puncaknya, sekitar tahun 2010, bangunan asrama yang ditempati oleh para santri ambruk. Saat kejadian tersebut Kiai Marsudi sedang menghadiri acara di NTT.

Sesampainya di Jakarta, tanpa diduga, beliau didatangi oleh seorang kontraktor yang menyodorkan rancangan pembangunan 4 lantai guna pembangunan kembali, padahal saat itu keadaan Kiai Marsudi sedang tidak memiliki tabungan uang yang memadai. Namun, atas izin Allah, kontraktor tersebut memberi kemudahan agar tetap bisa terlaksana pembangunan pesantren dan kampus STAINU.

Saat ini Pesantren Ekonomi Darul Uchwah sudah memiliki beberapa cabang yang tersebar di banyak kota di Indonesia. Selain di Jakarta, Bekasi dan Bogor, Pesantren Ekonomi Darul Uchwah juga sudah berdiri di Tegal, Lampung, dan Tanggerang. Khusus untuk pesantren pertama yang didirikan beliau di Bekasi, masih menggunakan nama Pesantren Darul Rohman yang pada hakikatnya masih masuk ke dalam satu naungan Pesantren Ekonomi Darul Uchwah.

Pesantren Darul Rohman diamanahkan kepada Drs. KH. Kurnali Shobandi. Pesantren tersebut diperuntukkan bagi santri ditingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Saat ini santri di Bekasi sudah mencapai 700. Di Tegal, sudah berdiri Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Tsanawiyah (MTS) dengan jumlah santri 200. Di Tanggerang, Bogor, dan Lampung belum terdapat lembaga pendidikan umum, masih digunakan untuk pengajaran keagamaan.

Pesantren Ekonomi Darul Uchwah pusat yang terdapat di Jakarta diperuntukkan untuk para mahasiswa. Disana telah berdiri dengan gagah kampus STAINU yang sekarang sudah berganti nama menjadi UNUSIA (Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia). Pesantren pusat membuka Taman Kanak-kanak Darul Uchwah. Saat ini, Pesantren Ekonomi Jakarta kurang lebih memiliki 500 santri yang terbagi kedalam 6 asrama. Untuk santri putri menempati dua lokal asrama, asrama Tahfidz dan asrama umum. Untuk santri putra yang sudah menyelesaikan diniyahnya serta diperbolehkan bekerja menempati asrama ndalem timur, bagi santri putra yang baru menempati asrama cengho, dan bagi santri tahun ke-2 hingga tahun ke 4 menempati asrama Jayakarta dan asrama tengah.  Saat ini, ada beberapa bangunan yang sudah dibeli, namun sedang dalam renofasi untuk dijadikan asrama santri selanjutnya.

Seiring perkembangan zaman, Pesantren Ekonomi Darul Uchwah memiliki beberapa Micro Finance yang dikelola para santri sesuai dengan ciri khas pesantren yang lebih memiliki perhatian lebih untuk menerapkan ilmu-ilmu ekonomi yang dipelajari pada kitab-kitab salaf.