Anjuran Mempunyai Sifat Malu – Dr. HM. Mujib Qulyubi, MH

عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو الأَنْصَارِي البَدْرِي – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ” رَوَاهُ البُخَارِي.

Abu Mas’ud bin Amr al-Anshari al-Badri ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya sebagian yang masih diingat orang dari ajaran para Nabi terdahulu, adalah, ‘Jika tidak malu, berbuatlah sesukamu.” (HR Bukhari).

Hadits ini pendek tapi sangat fundamental bagi kehidupan kita sehari-hari, yang mana sering kita abaikan padahal keutamaannya begitu besar dan berpengaruh bagi diri kita masing-masing. Hadits ini memberitahu kepada kita, bahwa ajaran syariat para Nabi terdahulu sampai sekarang masih ada, yakni mengajarkan menanamkan sifat malu kepada diri kita.

Bahwa malu sampai sekarang masih saja teruji, yang mana dianggap baik dan diperintahkan oleh agama. Artinya sifat malu menjadi pondasi setiap ajaran nabi terdahulu yang berurutan sampai ke Nabi Muhammad, ini yang menjadi pondasi utama dalam menjadikan diri kita bisa mencontoh sifat-sifat para Nabi. Maka dari itu, sesungguhnya malu adalah panggilan iman dan karakter seseorang.

Firman Allah Swt : ٱعْمَلُوا۟ مَا شِئْتُمْ ۖ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya : lakukan apa saja yang kalian mau, sesungguhnya Allah akan mengetahui apa yang kalian kerjakan.

Malu itu sebagian dari iman, sesungguhnya malu dan iman itu melarang orang untuk melakuakan sesuatu yang jelek, serta malu dan iman itu mendorong untuk berbuat baik. Sebagaimana iman juga akan menolak dari kejelakan dan mendorong untuk berbuat taat. Maka dari itu, malu kedudukannya sama dengan iman, sebab sama-sama mencegah untuk berbuat kejelekan dan sama-sama mendorong kepada kebaikan .

Dalam salah satu hadits, Nabi bersabda:
الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Artinya : iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan ‘Laailaahaillallah’, dan iman yang peling rendah ciri-cirinya adalah, apabila ada duri, ada sesutau yang menyakitkan, kemudian kita dengan tanpa pamrih dan melakukanya dengan tulus kita menghindarkan sesuatu yang akan mencelakai orang di jalan . dan malu itu bagian dari 70 cabang keimanan yang dikatakan oleh oleh nabi Muhammad saw.

Baca Juga : Berbuat Ihsan pada Segala Sesuatu – Dr. HM. Mujib Qulyubi, MH

Di samping itu nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِىٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ

“Sesungguhnya Allah Taala maha pemalu lagi maha menutupi, Dia mencintai (sifat) malu dan menutup (aib/aurat), maka jika seseorang di antara kalian mandi, hendaklah dia menutup (auratnya)”

Dengan begitu, Nabi Muhammad mengajak kita semua untuk mempunyai rasa pemalu, malu karena Allah Swt, malu karena dilarang oleh Allah swt dan malu karena memang dilarang oleh Rasullaah yakni Nabi kita Muhammad SWA.

اَلْـحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَ َاْلإِيْمَانُ فِـي الْـجَنَّةِ ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْـجَفَاءِ وَالْـجَفَاءُ فِـي النَّارِ.

Artinya: Malu adalah bagian dari iman, sedangkan iman tempatnya di surga dan perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar, sedang tabiat kasar tempatnya di Neraka.

Disamping itu, sifat malu mengajarkan kita untuk selalu senang dengan sifat toleran, senang dengan adab dan budaya. Dan perlu diketahui kembali, bahwa malu yang lebih utama kepada siapa ? malu-lah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Mari kita jaga apa yang benar-benar ada dikepala kita, mari kita jaga kemulian kepala dan apa yang ada di dalam pikiran kepala kita. Jadi, seharusnya kita malu untuk berfikir yang negatif, misalnya kita malu berfikir yang sudah dilarang oleh Allah Swt. Terutama untuk anak muda zaman sekarang. Kita harus malu untuk berpacaran, sebab sesungguhnya tidak ada dalam islam istilah pacaran, yang ada adalah nikah, maka dari itu kalau anda tertarik pada perempuan segeralah siapkan modal dan nikailah. ‘jomblo lebih baik dari pada pacaran, tetapi menikah lebih baik dari pada jomblo’.

Di sisi lain malu kepada Allah, adalah menjaga perut dan ada yang di dalam perut. Artinya, malu kalau kita makan, minum sesuatu yang subhat dan apalagi yang haram. Dan sesunguhnya malu kepada Allah adalah kita mengingat mati dan ujian yang ada di dalam kubur. Artinya kita harus mempersiapkan ketika kita akan meninggal dunia, dan apa bekal kita yang sudah di dapat.

Dunia semakin maju, peradaban semakin longgar, dan pergaluan semakin bebas. Oleh sebab itu, jangan mudah ikut arus dengan budaya yang tanpa batas. Dan jangan menganggap remah itu semua, apalagi adanya pergaulan zaman sekarang. Maka sesungguhnya pergalaun yang tidak punya malu adalah ketika ada perempuan dan laki-laki berduan yang ketiganya adalah syaitan dan itu semua sudah melanggar yang sudah dijelaskan diatas.

Dan pada akhirnya, semoga kita semuanya semakin bisa menata pergaulan diri kita, mari kita malu kepada Allah, malu kepada rasulullah saw, dan kemudian malu kepada sesama manusia. Sebab siapa yang mempunyai rasa malu yang tebal, maka imannya juga tebal dan tempatnya adalah surga. Tetapi siapa yang senang bicara kotor dan tidak malu maka berarti dia senang dengan kekasaran. Sedangkan kekesaran, kebohongan, hoaks, serta membuli orang lain tempatnya adalah di negara ‘naudzbulillah’.

~Kajian Bulan Ramadan Pesantren Ekonomi Darul Uchwah bersama Dr. HM. Mujib Qulyubi, MH, kitab Kajian Arbain Nawawi.
HADITS KEDUA PULUH.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *