Dr. KH. Marsudi Syuhud – Agama Dan Negara Tidak Saling Bertentangan


hobindonesia.id Kami adalah pemilik tujuan yang adil, tujuan agama, dan tujuan tanah air. Segala sesuatu yang menuntut pembangunan dan rekonstruksi, pekerjaan dan produksi, kebahagiaan orang-orang dan pencapaian keamanan dan stabilitas mereka adalah agama yang benar dan kemanusiaan yang sejati. Dan segala sesuatu yang menyerukan pada kerusakan dan korupsi, vandalisme dan pembunuhan, adalah menuntut pada apa yang bertentangan dengan agama dan nilai-nilai luhur lainnya serta naluri manusia yang sehat.

Agama dan negara tidak saling bertentangan. Agama dan negara bersama-sama mengkonsolidasikan dasar-dasar persamaan kewarganegaraan dalam hak dan kewajiban, dan hendaklah kita bekerja sama demi kebaikan negara kita dan kebaikan semua orang, untuk mencintai apa yang baik untuk orang lain seperti kita mencintainya untuk diri kita sendiri. Agama adalah belas kasihan, agama adalah pengampunan, agama manusiawi, agama adalah anugerah.

Agama dan negara menuntut dari kita semua untuk solidaritas sosial, dan hendaknya di antara kita tidak ada orang yang kelaparan, orang yang kekurangan, orang yang telanjang, tunawisma atau orang yang membutuhkan.

Baca Juga : Dr. KH. Marsudi Syuhud – Hubungan Antara Agama Dan Negara Bukanlah Hubungan Yang Bermusuhan

Agama dan negara mendorong pekerjaan dan produksi, perbedaan dan kesempurnaan, menyelesaikan pengangguran dan kemalasan, terorisme dan penelantaran, kerusakan dan korupsi, perusakan dan sabotase, menimbulkan keresahan dan hasutan, pengkhianatan dan penipuan.

Sebagai kesimpulan, kami tegaskan bahwa mereka yang mengkhayalkan konflik seharusnya tidak berada di antara agama dan negara dan melihatnya sebagai konflik yang tak terhindarkan, entah mereka tidak memahami agama dengan baik atau tidak sepenuhnya memahami konsep negara. Jadi, kecacatan itu tidak ada hubungannya dengan agama yang benar atau keadaan rasional, melainkan karena kesalahpahaman tentang hakikat agama, hakikat negara, atau hakikat keduanya.

Namun, kami menegaskan bahwa kebutuhan untuk menghormati undang-undang dan konstitusi negara bagian, dan untuk menegakkan supremasi hukum, dan bahwa tidak ada kekuasaan yang sejajar dengan otoritas negara yang didirikan di negara mana pun, terlepas dari sumber otoritas tersebut. Maka ini adalah satu bendera yang bergabung di atasnya dan di bawahnya terdapat semua bendera lain. Adapun jika setiap lembaga, kelompok, atau badan yang membawa bendera yang sejajar dengan bendera negara, maka ini adalah bahaya langsung yang tidak menyangkut masalah agama maupun masalah negara.
.
.
Pengajian Kitab فقه الدولة وفقه الجماعة (yurisprudensi negara dan yurisprudensi kelompok) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

Baca Juga : Peran Pesantren Dalam Perkembangan NU di Jakarta Barat

Penulis: Afan Abdillah
#part 70

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *