Dr. KH. Marsudi Syuhud – Berikanlah Suatu Tanggung-Jawab Kepada Orang yang Kompeten Tetapi Juga Amanah


hobindonesia.id Di era modern kita, kami (pengarang kitab) katakan masalahnya sama dalam membedakan kemewahan industri dan yang dibedakan dari perdagangan lainnya. Tidakkah Anda melihat bahwa Anda dapat berdiri di atas karya pematung, tukang ledeng, kepercayaan, pembahas atau orang lain dengan keterampilan kreatif. Dan masing-masing darinya itu sangat khas, selain perbedaan satu dari yang lain dalam hal ketepatan pengerjaan dan detail-detail seni estetika dan kreatifnya yang hanya dirasakan oleh orang-orang yang memiliki pengalaman dan penguasaan yang hebat, yang telah mempraktikkan kerajinan tersebut dan telah membedakannya selama bertahun-tahun.

Pada intinya pemimpin negara harus mampu membaca keadaan dengan cepat dan mampu memahami tantangannya. Mengartikan bahwa sebagian dari mengelola negara itu tidak lain harus bisa memilih siapa yang paling layak memimpin negara yang sesuai dengan kebutuhan zamannya. Dr. KH. Marsyudi Suhud mengatakan bahwa “Gus dur itu sesuai dengan kebutuhan zamannya”. Sampai sekarang pun (era Jokowi) juga sesuai dengan kebutuhan zamannya. Dan memilih pemimpin yang sesuai zamannya itu tidak gampang. Orang yang bisa memilih dengan baik adalah yang sudah banyak pengalaman.

Jika hal ini terjadi di industri kerajinan tangan dan profesional yang tersembunyi dan manual, maka apa artinya mengelola lembaga, belum lagi mengelola negara dengan segala tantangan zaman, jalinannya, kerumitannya, dan masalah keamanan, politik, militer, ekonomi, dan teknisnya. Orang bisa membedakan ukiran karena mereka punya pengalaman. Demikian juga ketika mengangkat presiden, yang tahu siapa calon terbaik adalah orang-orang yang banyak pengalaman di bidang pengelolaan negara.

Baca Juga:Dr. KH. Marsudi Syuhud – Bagi Mereka Yang Sudah Terlatih, Alur Propaganda Politik Itu Mudah Dipahami

Hal tersebut membutuhkan ilmu, pengalaman, pelatihan dan spesialisasi, dan bukan hanya sekedar hobi. Ketika kita melihat Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang mulia, maka kami menemukan bahwa keduanya menekankan perlunya kompetensi, kecukupan dan kejujuran, sebagaimana Allah Swt berfirman di dalam kitab-Nya al-aziz dengan bahasa baginda kita nabi Yusuf A.S untuk penguasa Mesir :
ٱجۡعَلۡنِی عَلَىٰ خَزَاۤىِٕنِ ٱلۡأَرۡضِۖ إِنِّی حَفِیظٌ عَلِیمٌ
Artinya :”Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”(Surat Yusuf, ayat 55).
Dan Allah Swt berfirman, dengan bahasa putri Syu’aib kepada ayahnya tentang baginda kita nabi Musa A.S :
یَـٰۤأَبَتِ ٱسۡتَـٔۡجِرۡهُۖ إِنَّ خَیۡرَ مَنِ ٱسۡتَـٔۡجَرۡتَ ٱلۡقَوِیُّ ٱلۡأَمِینُ
Artinya :”Wahai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”(Surat Al-Qashash, ayat 26).
Ketika raja kita Abu Dzar r.a meminta baginda kita Rasulullah Saw untuk menggunakannya, maka beliau Rasulullah Saw bersabda kepadanya :
يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ ضَعِيْفٌ، وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيْهَا
Artinya :” Wahai Aba Dzarr, kamu itu lemah, dan itu adalah amanah, dan pada Hari Kebangkitan itu akan menjadi rasa malu dan penyesalan, kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan melakukan di dalamnya”(Shohih Muslim : Kitab al-Imaarah, Bab Karaahah al-Imaarah bi ghair Dloruurah, Hadis nomor 4823).
Dan Rasulullah Saw bersabda :
إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ
Artinya :”Jika masalah diselesaikan kepada selain ahlinya, maka tunggulah hari kiamat”(Shohih Bukhari : Kitab al-Ilm, Bab Man suila ‘Ilman wa Huwa Musytaghilun fi Hadiitsiihi fa Atamma al-Hadiitsa tsumma Ajaaba as-Saaila, Hadis nomor 59).
Adapun orang-orang yang dimaksud adalah orang-orang yang memiliki kompetensi dan kejujuran (dalam waktu yang bersamaan).

Pemimpin diharapkan memberikan tanggung-jawab pada pembantu dalam kepemimpinannya pada seorang yang pengalaman, ahli, kompeten, juga dapat dipercaya. Sekarang kita lihat menteri yang mengelola vaksin ini apakah amanah atau tidak. Kalau tidak terwujud apa yang menjadi harapan kita bersama, ini berarti bahwa dia bukan ahli. Maksudnya anda diharapkan tidak salah pilih orang untuk dijadikan pekerja. Misalnya kalau anda menjadi presiden, maka anda dituntut agar tidak salah pilih menteri. Untuk memilih itu, dipertimbangkan dari riwayat hidupnya. Mulai dari riwayat pendidikan, riwayat organisasi, pengalaman hidup dan sebagainya. Jangan anda tempatkan seorang yang ahli di bidang pendidikan untuk menjadi menteri pertahanan. Begitu juga jangan anda berikan jabatan menteri agama pada orang yang tidak paham agama.

Artinya seorang pemimpin itu jangan asal-asalan memberikan tanggung-jawab dan hendaknya ia mempertimbangkan banyak aspek sebelum menempatkan seseorang di suatu bidang tanggung-jawab tertentu. Adapun teknis pemilihan siapa yang menjadi pemimpin di bidang tertentu tersebut ada 3 model. Pertama; adakalanya mengajukan diri, sebagaimana kisah nabi Yusuf A.S yang mengajukan diri sebagai bendaharawan negara Mesir. Kedua; adakalanya ditunjuk/direkomendasikan oleh orang lain yang menganggap dia kompeten, sebagaimana kisah putri Syu’aib yang menunjuk/merekomendasikan nabi Musa kepada ayahnya sebagai pekerja ayahnya. Ketiga; adakalanya ditunjuk langsung oleh pemimpin tertinggi, kalau di negara anda semacam presiden. Adapun syaratnya yang harus dipenuhi ada 2, yakni; kompeten dan amanah (dapat dipercaya). Kedua syarat ini (kompeten dan amanah) bersifat komulatif, kumpulan, atau satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan, yakni keduanya harus ada dalam waktu yang bersamaan. Sehingga ini berarti bahwa anda tidak boleh memberikan suatu tanggung-jawab di bidang tertentu pada orang yang tidak kompeten dan atau tidak amanah.

Beberapa waktu yang lalu presiden kita me-reshufle beberapa menteri, bahkan yang terbaru me-reshufle menteri agama. Menggantikannya dengan yang baru. Setelah kita memahami kitab ini, maka fenomena ini tidak masalah, selagi dengan tujuan agar lebih baik lagi. Ada beberapa faktor yang membolehkan, mungkin saja beberapa menteri itu dianggap “tidak kompeten” dan atau “tidak amanah”, atau mungkin kinerjanya dianggap kurang memuaskan. Sementara dalam waktu yang bersamaan ada orang lain yang dianggap lebih mampu dan amanah untuk menggantikannya. Al-hasil, fenomena ini tidak masalah dan sah secara hukum, walaupun masa jabatan mereka (yang di-reshufle) belum habis.
.
.
Pengajian Kitab فقه الدولة وفقه الجماعة (yurisprudensi negara dan yurisprudensi kelompok) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

Baca Juga :Dr. KH. Marsudi Syuhud : Congratulatory of Global Peace Leaders Conference Korea 2010

Penulis: Afan Abdillah
#part 14

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *