Dr. KH. Marsudi Syuhud – Dalam Sistem Ekonomi Islam; Manusia Bukan Sebagai Alat Produksi


hobindonesia.id Dalam pembahasan sebelumnya menjelaskan terkait, keadaan dan perkembangan ekonomi akan menghasilkan watak seseorang dalam berperilaku. Artinya potret keadaan ekonomi mempengaruhi karakter berfikir sekarang.

Suatu perkara yang benar-benar dibantah Islam dengan pasti adalah bahwa peran manusia dan keyakinannya merupakan peran efektif juga efisien dalam perubahan. Maka, dalam pandangan Islam manusia bukan materi, dia adalah orang yang merubah dan mendorong perkembangan juga dia sendirilah yang merubah dan mengganti cara produksi dan hubungannya.

Oleh karena itu, Dia (Allah) yang Maha Luhur bersabda :”إِنَّ ٱللَّهَ لَا یُغَیِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ یُغَیِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمۡ”( Surat Ar-Ra’d, ayat No. 11) dan sabda-Nya :”ذَ ٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ لَمۡ یَكُ مُغَیِّرا نِّعۡمَةً أَنۡعَمَهَا عَلَىٰ قَوۡمٍ حَتَّىٰ یُغَیِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمۡ” ( Surat Al-Anfal, ayat No. 53).

Bahwa sesungguhnya keyakinan seseorang atau peran seseorang adalah sebuah perang yang memang efektif mempengaruhi perubahan dalam ekonomi atau yang lainnya.

Selain itu, manusia adalah subject yang bisa merubah sesuatu keadaan, artinya manusia bukan alat produksi. Kalau sekarang manusia di jadikan alat produksi malah jadinya, dihargai seperti halnya barang.

Baca Juga : Dr. KH. Marsudi Syuhud – Keadaan Ekonomi Seseorang Mempengaruhi Perilaku dan Lingkungannya

Sesungguhnya manusia tidak bisa pisah dengan lingkungannya. Artinya manusia tidak bisa keluar dari berkorelasi dengan lingkungan. Bahwa yang bisa mempengaruhi manusia dengan cepat adalah kepercayaan.

Maka, tidak ada keraguan bahwa kondisi material berpengaruh, karena seseorang tidak dapat berpisah dari lingkungannya. Juga tidak ada keraguan bahwa menilai individu dari beberapa individu, atau suatu bangsa dari beberapa bangsa terlepas dari kemampuan keuangan atau kondisi ekonominya, menurut pandangan kami adalah upaya yang sia-sia dan tidak adil. Namun, kemauan manusia dan keyakinan yang kuat memiliki peran yang efektif dan berpengaruh dalam membawa perubahan dan mencapai kemajuan.

Oleh karena itu, Islam sangat ingin mempersiapkan jiwa-jiwa terlebih dahulu dan mendidik mereka tentang akhlak yang baik terlebih dahulu. Itulah titik awal dan dasar untuk memulai dan sebenarnya sesungguhnya hanya individu dan bangsa dengan akhlak dan perlakuan yang baik, bukan melalui pemberontakan, prestise atau kemajuan materi.

Dengan begitu pandangan Islam yang akurat, dengan perhatiannya mendidik manusia terlebih dahulu dan kemudian meningkatkan penghidupannya yang kedua. Maka, setiap masing-masing dari keduanya mempengaruhi dan melengkapi yang lain, sehingga umat manusia tidak dapat terus maju kecuali dengan kedua hal itu, yakni; kemauan manusia dan keadaan lingkungan.
.
.
Pengajian Kitab السياسة الاقتصادية الاسلامية (Islamic Economic Policy) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

Penulis: Affan Abdillah
#part 38

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *