Dr. KH. Marsudi Syuhud – Ekonomi Islam Menjamin Keamanan Perilaku Sosial


hobindonesia.id Dalam penjelasan cabang yang kedua yakni, tentang ‘Pengawasan Ganda dan Cakupannya’.

Di dalam naungan kontrol ekonomi buatan manusia, pengawasan dalam melakukan kegiatan ekonomi pada dasarnya adalah kendali eksternal yang wilayahnya adalah undang-undang.

Pertama, Pengawasan Dalam Ekonomi Islam : Di dalam naungan ekonomi Islam, selain memonitor hukum atau Syariah, dia juga ingin membangun swa-monitor lain berdasarkan gagasan keimanan kepada Allah dan penghitungan Hari Kiamat.

Tidak dapat dipungkiri bahwa ini merupakan jaminan yang kuat bagi keamanan perilaku sosial dan legitimasi kegiatan ekonomi, karena individu beriman merasa bahwa jika ia mampu lepas dari kendali dan pertanggungjawaban undang-undang, maka ia tidak akan dapat lepas dari pengawasan dan pertanggungjawaban Allah ta’aala.

Oleh karena itu, dasar dari tanggung jawab dalam Islam adalah :“Sembahlah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu” dan pernyataan Rasulullah Saw. adalah bahwa :“Orang yang berzina tidak berzinah manakala dia berzina sewaktu keadaaannya beriman, dan pencuri tidak mencuri manakala dia mencuri sewaktu keadaanya beriman”. (Diriwayatkan oleh Syekh Bukhari dan Muslim.)

Maka dengan begitu, ekonomi ketuhanan dilihat dari pengawasan itu double yakni, mulai dari pengawasan dari manusia juga pengawasan dari Allah. Semua perilaku yang sudah anda lakukan, sudah di audit oleh Allah.

Baca Juga : Dr. KH. Marsudi Syuhud – Membantu Orang Banyak Sama Saja Dengan Jihad Fi Sabilillah

Merasa orang yang beriman dalam ekonomi ketuhanan yang mengawasi bukan sekedar undang- undang saja. Yang perlu diketahui lagi, yang mengawasi ada satu lagi, yakni Allah.

Seperti halnya kalau ada orang islam yang korupsi, mencuri itu imannya lagi hilang. Artinya seorang mukmin kalau mencuri secara tidak langsung dia bukan mukmin. Sebab korupsi, mencuri itu sudah di larang oleh Agama.

Kedua, Keyakinan Agama Dan Dampaknya : Akibat dari hal tersebut di atas adalah terdapat faktor yang berbeda dalam ekonomi Islam, yaitu ketaatannya pada dorongan agama untuk mengarahkan aktivitas ekonomi, Muslim merasakan kendali atas Allah ta’aala dalam setiap perbuatannya dan tanggung jawabnya di hadapan Allah.

Oleh karena itu, ilmu ekonomi Islam berusaha untuk memelihara dan memperdalam nurani religius ini, sehingga umat Islam berpegang pada ajaran ekonomi Islam dengan komitmen spontan berdasarkan akidah dan keimanan, yaitu karena keinginan, kemauan dan pilihan tanpa perlu otoritas negara untuk menegakkannya.

Hal ini berlawanan dengan apa yang lazim dalam sistem ekonomi buatan manusia, di mana mereka tidak tertarik, tetapi justru menyangkal tekad religius untuk mengarahkan kegiatan ekonomi. Efek dari hal ini muncul dalam upaya banyak orang di bawah rezim ini untuk menghindari komitmen mereka atau menyimpang dari kegiatan ekonomi mereka, manakala negara diabaikan atau badan-badannya gagal memantau dan meminta pertanggungjawaban mereka.

Bedanya ekonomi islam dengan yang lainnya adalah, persiapannya saja atas dasar beragama. Kalau anda melakukan sesuatu yang merasa di diawasi oleh tuhan, secara otomatis tuhan selalu mengawasi anda. Dan itu sumbernya dari iman.
.
.
Pengajian Kitab السياسة الاقتصادية الاسلامية (Islamic Economic Policy) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

Penulis: Affan Abdillah
#part 30

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *