Dr. KH. Marsudi Syuhud – Ekonomi Islam Sebagai Sarana Efektif Untuk Kesejahteraan Individu Dan Masyarakat


hobindonesia.id Pada hakikatnya ekonomi islam di dalamnya terdapat pemenuhan spiritual tidak hanya materi saja. Artinya, menyatunya antara materi dan spiritual. Jadi, kegiatan ekonomi tidak hanya dapat materi saja. Tapi, dapat spiritualnya juga.

Semua yang dilakukan Islam dalam hal ini adalah agar seseorang dengan kegiatan ekonominya menghadap kepada Allah Swt., untuk mencari keridhaan dan takut pada-Nya. Seperti yang dikatakan Allah Swt., :”وَلِكُلّ وِجۡهَةٌ هُوَ مُوَلِّیهَاۖ فَٱسۡتَبِقُوا۟ ٱلۡخَیۡرَ اتِۚ”,( Surat Al-Baqarah, ayat No. 148.) Allah ta’ala berfirman : “وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرۡغَبْ” (Surat Al-Insyirah, ayat No. 8.) dan Allah Swt., berfirman :”وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِینَ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمۡ أَنفُسَهُمۡۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ”.

Oleh karena, itu ada hadits nabi yang terkenal :“Al-‘Amalu ‘Ibaadatun”, dan perkataannya Nabi Saw., :”Innaa Allaha ‘azza wa jalla laa yaqbalu minal ‘amal illaa maa kaana Khaalishan wa ibtaghii bihi wajHahu”. Maka, wilayahnya adalah niat, sebagaimana Rasulullah Saw., mengatakan :“Innamaa al’a’malu bin niyaati, wa Innamaa likillim Imri’in maa Nawa”.

Baca Juga : Dr. KH. Marsudi Syuhud – Sistem Ekonomi Kapitalis Dan Sosialis Tidak Bisa Memenuhi Kebutuhan Spiritual

dan perkataan Nabi Saw., :“Laa yaqbalu Allah qawlan illaa bil ‘Amal, wa laa yaqbalu ‘Amalan Illaa bi Niyyatin”, yang diungkapkan oleh para fundamentalis dengan mengatakan :”al-Umuuru bi Maqaashidihaa”. Atas kewenangan hakim senior dari para pendahulu, mereka berkata :”Allaahumma innii A’buduka bi Qadlaa’iy”

Tidak dapat dipungkiri bahwa aspek kegiatan ekonomi adalah kepada Allah Swt., ini tidak dimaksudkan untuk dirinya sendiri. Maka, Allah ta’aala tidak menguntungkan atau merugikannya jika orang-orang berpaling kepada-Nya untuk kegiatan ekonomi mereka atau tidak (إِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِیٌّ عَنِ ٱلۡعَـٰلَمِینَ)

Sebaliknya, nilai dari pendekatan ini adalah bahwa ini merupakan perlindungan rakyat untuk diri mereka sendiri (إِنَّ ٱلَّذِینَ لَا یُؤۡمِنُونَ بِٱلۡـَٔاخِرَةِ زَیَّنَّا لَهُمۡ أَعۡمَـٰلَهُمۡ فَهُمۡ یَعۡمَهُونَ). (Surat An-Naml, ayat No. 4), Ini adalah katup pengaman untuk keselamatan kegiatan ekonomi, melainkan sarana yang efektif untuk kesejahteraan individu dan masyarakat (ذَ ٰلِكَ خَیۡر لِّلَّذِینَ یُرِیدُونَ وَجۡهَ ٱللَّهِۖ وَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ). (Surat Ar-Rum, ayat No. 38.)

Dapat simpulkan, bahwasannya kegiatan anda hidup 24 jam itu harus di pasang alarm karena spiritual karena hanya Allah swt. Sebab ketika melakukan apa saja itu diniatkan hanya karena Allah dan itu yang dinamakan ‘karakter keimanan spritual dalam kegiatan ekonomi’.
.
.
Pengajian Kitab السياسة الاقتصادية الاسلامية (Islamic Economic Policy) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

Penulis: Affan Abdillah
#part 27

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *