Dr. KH. Marsudi Syuhud – Fatwa Memungkinkan Berbeda Sebab Berbedanya Waktu, Tempat, atau Keadaan


hobindonesia.id Kami (pengarang kitab) telah berbicara tentang hubungan antara agama dan politik, dan pengarang kitab telah berulang kali menekankan pentingnya mengkonsolidasikan konsep negara bangsa dan struktur nasional yang kokoh yang bisa untuk semua orang atas dasar hak dan kewajiban nasional bersama. Bukan untuk berdagang dengan agama atau dengan mengeksploitasinya untuk kepentingan politik atau partisan.

Adalah normal, diwajibkan, dan diharapkan bahwa para sarjana akan mengerjakan apa yang membangun, bukan apa yang menghancurkan, dan apa yang menyatukan dan bukan apa yang mencerai-beraikan. Mereka juga diharapkan akan membedakan antara apa yang sah menurut hukum agama yang qhathi’y astubut wa ad-dilalah, dan antara apa yang dhanniy ad-dilalah yang memuat pendapat dan opini yang lain, dan perbedaan pendapat di dalamnya adalah kelapangan untuk ummat dan kenyamanan untuknya. Seperti yang dikatakan raja kami (pengarang kitab) Umar bin Abdulaziz r. a :“Sesuatu yang menggembirakanku adalah bahwa para sahabat Muhammad Saw tidak ikhtilaf (berbeda pendapat)”(Jami’ Bayan al-Ilm wa Fadllih, milik Ibnu Abdil Barr : Bab Jami’ maa Yalzamu an-Nadhir fiy Ikhtilaf al-Ulama’, Nomor 1036). Artinya, mereka tidak berebeda pendapat dan pemahaman tentang teks. Karena jika mereka tidak ikhtilaf (berbeda pendapat).

Maka dengan begitu, hal itu akan menyulitkan masyarakat, seperti yang paling terkait dengan transaksi dan penyelenggaraan urusan masyarakat dan sistem kehidupan mereka, dari apa yang di dalamnya merupakan ruang yang besar, dan fatwa tentangnya mungkin berbeda sebab berbedanya waktu, tempat atau kondisi. Jadi apa yang rojih di suatu zaman, menurut keadaan zaman ini, terkadang menjadi marjuh apabila zamannya berubah. Seperti halnya fatwa apa yang marjuh di suatu tempat karena sifat dari tempat ini, maka sesungguhnya hal itu terkadang menjadi marjuhah apabila tempat atau situasinya berubah, dan diperlukan ijtihad baru yang menajadikan marjuh menjadi rajih, dan rajih menjadi marjuh.
.
.
Pengajian Kitab فقه الدولة وفقه الجماعة (yurisprudensi negara dan yurisprudensi kelompok) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

Baca Juga : Peran Pesantren Dalam Perkembangan NU di Jakarta Barat

Penulis: Afan Abdillah
#part 38

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *