Dr. KH. Marsudi Syuhud – Hubungan Antara Agama Dan Negara Bukanlah Hubungan Yang Bermusuhan


hobindonesia.id Negara rasional adalah katup pengaman bagi religiusitas rasional. Hubungan antara agama dan negara bukanlah hubungan yang bermusuhan, dan tidak akan pernah bermusuhan. Religiusitas kita yang rasional, sehat, sadar, dan moderat berkontribusi kuat pada pembangunan dan stabilitas negara modern, demokratis, terbaru yang berdasarkan fondasi nasional yang kokoh dan lengkap, dan bahwa negara rasional tidak dapat berbenturan dengan naluri manusia yang mencari keyakinan rasional yang benar. Namun, kita harus membedakan dengan sangat jelas antara religiusitas dan ekstremisme, karena religiusitas rasional mendorong pemiliknya pada toleransi, belas kasihan, kejujuran, akhlak mulia, untuk hidup berdampingan secara damai dengan diri dan orang lain. Itulah yang kita semua dukung. Adapun ekstremisme dan terorisme yang menyerukan pada disintegrasi dan kerusakan, sabotase dan penghancuran, pembongkaran dan diperbolehkannya darah dan uang, maka itu adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan yang harus kita semua lawan dan perjuangkan, dan berusaha dengan segenap kekuatan kita untuk menghilangkannya hingga kita mencabut mereka dari akarnya.

Dalam persamaan yang tidak sulit ini, kita harus membedakan antara agama yang benar dan ideologi teroris yang menyimpang yang salah, dengan mengetahui bahwa pergulatan antara kebenaran dan kepalsuan itu ada dan berlanjut hingga Allah mewarisi bumi dan orang-orang di atasnya, asalkan kemenangan untuk hak itu berlangsung lama atau pendek. Sebagaimana Dia (Allah) yang maha benar berfirman :
بَلۡ نَقۡذِفُ بِٱلۡحَقِّ عَلَى ٱلۡبَـٰطِلِ فَیَدۡمَغُهُۥ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌۚ وَلَكُمُ ٱلۡوَیۡلُ مِمَّا تَصِفُونَ
Artinya :“Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya)”(Surat Al-Anbiya’, ayat 18).

Perumpamaan tentang hak dan batil itu seperti perumpamaan tentang kata yang baik yang merupakan kebenaran, dan kata yang jelek yang merupakan kepalsuan :
أَلَمۡ تَرَ كَیۡفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَیِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَیِّبَةٍ أَصۡلُهَا ثَابِتٌ وَفَرۡعُهَا فِی ٱلسَّمَاۤءِ (٢٤) تُؤۡتِیۤ أُكُلَهَا كُلَّ حِینِۭ بِإِذۡنِ رَبِّهَاۗ وَیَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ یَتَذَكَّرُونَ (٢٥) وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِیثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِیثَةٍ ٱجۡتُثَّتۡ مِن فَوۡقِ ٱلۡأَرۡضِ مَا لَهَا مِن قَرَارٍ
Artinya :“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit (24). Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (25). Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun”(Surat Ibrahim, ayat 24 – 26).

Namun, kemenangan tentu saja bagi kebenaran dan bagi ahlinya, sebagaimana Dia (Allah Swt) berfirman :
وَلَقَدۡ سَبَقَتۡ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا ٱلۡمُرۡسَلِینَ (١٧١) إِنَّهُمۡ لَهُمُ ٱلۡمَنصُورُونَ (١٧٢) وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ ٱلۡغَـٰلِبُونَ (١٧٣)
Artinya :”Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul (171). (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan (172). Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang (173)”(Surat Ash-Shaffat, ayat 171 – 173).
Dia (Allah Swt) berfirman :
إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ یَنصُرۡكُمۡ وَیُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ
Artinya :”Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”(Surat Muhammad, ayat 7).
Dan Dia(Allah Swt) juga berfirman :
وَكَانَ حَقًّا عَلَیۡنَا نَصۡرُ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ
Artinya :”Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman”(Surat Ar-Rum, ayat 47).
.
.
Pengajian Kitab فقه الدولة وفقه الجماعة (yurisprudensi negara dan yurisprudensi kelompok) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

Baca Juga : Peran Pesantren Dalam Perkembangan NU di Jakarta Barat

Penulis: Afan Abdillah
#part 69

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *