Dr. KH. Marsudi Syuhud – Ketertiban Umum Merupakan Kebutuhan Religius, Nasionalis Dan Kemanusiaan


hobindonesia.id Ketertiban umum adalah kebutuhan religius, nasionalis dan kemanusiaan. Pada tingkat religius, Islam adalah agama sistem dengan segala arti kata. Maka sholat adalah sebuah sistem, puasa adalah sebuah sistem, dan haji adalah sebuah sistem, dan bukanlah tindakan sembarangan saat mereka datang, karena segala sesuatu di alam semesta ini diciptakan oleh Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung) dan Dia telah menundukkan karena kebijaksanaan dan untuk kebijaksanaan-Nya. Dia (Allah Swt) telah berfirman :
أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَـٰكُمۡ عَبَثًا وَأَنَّكُمۡ إِلَیۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ
Artinya :“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami ?”(Surat Al-Mu’minun, ayat 115).

Dia (Allah) yang maha agung kedudukan-Nya berfirman :
إِنَّا كُلَّ شَیۡءٍ خَلَقۡنَـٰهُ بِقَدَرٍ
Artinya :“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”(Surat Al-Qamar, ayat 49).

Sebagaimana segala sesuatu di alam semesta ini menjalankan peran dan fungsinya yang telah diciptakan oleh Allah (Yang Maha Kuasa dan Mulia) untuknya, dengan konsistensi, penguasaan dan ketelitian, sehingga yang berikutnya tidak mendahului yang sebelumnya, dan yang sebelumnya tidak terlambat daripada yang berikutnya.

Dalam hal itu, yang maha benar (Allah Swt) berfirman :
وَٱلشَّمۡسُ تَجۡرِی لِمُسۡتَقَرٍّ لَّهَاۚ ذَ ٰلِكَ تَقۡدِیرُ ٱلۡعَزِیزِ ٱلۡعَلِیمِ (٣٨) وَٱلۡقَمَرَ قَدَّرۡنَـٰهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَٱلۡعُرۡجُونِ ٱلۡقَدِیمِ (٣٩) لَا ٱلشَّمۡسُ یَنۢبَغِی لَهَاۤ أَن تُدۡرِكَ ٱلۡقَمَرَ وَلَا ٱلَّیۡلُ سَابِقُ ٱلنَّهَارِۚ وَكُلٌّ فِی فَلَكٍ یَسۡبَحُوْنَ
Artinya :“Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (38). Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua (39). Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya”(Surat Ya-Sin, ayat 38-40).
.
.
Pengajian Kitab فقه الدولة وفقه الجماعة (yurisprudensi negara dan yurisprudensi kelompok) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

Baca Juga : Peran Pesantren Dalam Perkembangan NU di Jakarta Barat

Penulis: Afan Abdillah
#part 54

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *