Dr. KH. Marsudi Syuhud – Media Menjadi Salah Satu Senjata Perang Generasi Keempat Dan Generasi Kelima


hobindonesia.id Al-Qur’an yang Mulia berbicara tentang orang-orang yang suka mendengarkan kebohongan, dan telah menghubungkan antara karakteristik mereka dengan hal tersebut dan mendeskripsikan sebagai makan yang haram, sebagaimana Dia (Allah Swt) berfirman :
سَمَّـٰعُونَ لِلۡكَذِبِ أَكَّـٰلُونَ لِلسُّحۡتِۚ
Artinya :“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram”.
Antara kedua karakter tersebut memiliki hubungan yang erat, karena masalah terompet berbohong terkait dengan makan yang haram sampai pada batas yang besar, di mana perekrutan terompet palsu melawan agama, negara, dan tanah air-nya telah menjadi industri zaman kita dan telah menjadi salah satu senjata perang generasi keempat dan generasi kelima.

Kami memperhatikan bahwa Alquran telah mengungkapkan tipe orang ini dengan firman-Nya “سمّاعون”. Perbedaan antara “سامع”, “مستمع”, dan “سمّاعون”, adalah kata “سامع” terkadang itu menunjukkan bahwa dia mendengar pidato tersebut secara spontan, apakah dia bermaksud untuk mendengar atau memberikan pidato di telinganya. Adapun “مستمع” dia adalah orang yang mendengarkan dengan seksama pada pembicaraan. Dan adapun “سمّاعون” maka itu adalah shighot mubalaghah (susunan kata pleonastis) mengikuti wazan fa’aalun, jadi dia tidak menunggu kebohongan datang kepadanya. Akan tetapi dia mencarinya dan berjuang untuknya seperti yang kita lihat dan saksikan dari banyak profesional media kelompok persaudaraan teroris dan orang-orang yang dibayar olehnya, yang direkrut kepadanya, dengan mencampurkan mereka dengan uang kotor. Mereka mendengar kebohongan, mencarinya, juga berusaha mendirikan kepadanya, supaya mencoba mencari dari mereka apa yang dibayangkan oleh publik dan supaya mencoba menyerang untuk mempercayai bahwa itu adalah benar.

Namun, sejatinya agama kita tidak hanya melarang kita mendengar kebohongan, tetapi juga mendesak kita untuk memverifikasi dan memastikan kebenaran berita sebelum menyebarkan atau menyiarkannya di antara orang-orang. Dia (Allah Swt) berfirman :
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ إِن جَاۤءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٍ فَتَبَیَّنُوۤا۟ أَن تُصِیبُوا۟ قَوۡمَۢا بِجَهَـٰلَةٍ فَتُصۡبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَـٰدِمِینَ
Artinya :“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.

Dan Dia (Allah Swt) berfirman pada urusan mereka yang berjuang dalam penggusuran :
إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَیۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٌ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَیِّنًا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِیمٌ (١٥) وَلَوۡلَاۤ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ قُلۡتُم مَّا یَكُونُ لَنَاۤ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَـٰذَا سُبۡحَـٰنَكَ هَـٰذَا بُهۡتَـٰنٌ عَظِیمٌ
Artinya :”(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar (15) Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu :”Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar”.
Nabi kita Muhammad saw pun bersabda :
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِغَ
Artinya :”Sudah cukup pada dosa seseorang, berbicara dengan semua yang dia dengar”.
.
.
Pengajian Kitab فقه الدولة وفقه الجماعة (yurisprudensi negara dan yurisprudensi kelompok) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

Baca Juga : Peran Pesantren Dalam Perkembangan NU di Jakarta Barat

Penulis: Afan Abdillah
#part 65

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *