Dr. KH. Marsudi Syuhud – Membantu Orang Banyak Sama Saja Dengan Jihad Fi Sabilillah


hobindonesia.id Connectivity antara spiritual dengan materi, keduanya harus bisa berkesinambungan. Selain itu, iman dalam islam itu tidak abstrak dan iman dalam islam itu tidak membedakan.

Keyakinan dalam islam bukanlah keyakinan abstrak, melainkan keyakinan terbatas yang terkait dengan pekerjaan dan produksi, terkait dengan keadilan dan distribusi yang baik, terkait dengan perlakuan yang baik dan mengulurkan bantuan kepada orang lain, yang pada akhirnya karena kemaslahatan masyarakat.

Karena itu, Rasulullah Saw. selalu menegaskan bahwa monastisisme Islam adalah jihad di jalan Allah, yaitu untuk masyarakat, komunitas produksi dan jasa. Bahkan (Rasulullah Saw.) berkata dalam hadits Qudsi :”Carikan untuk-ku orang-orang lemah kalian” ( Juga di dalam hadis lain :”Tidaklah kalian ditolong dan diberi rizki melainkan sebab orang-orang lemah kalian”).

Dan ucapan-Nya dalam hadits Qudsi yang lain :”Sesungguhnya Allah ta’aala bersabda pada hari kiamat :”Hai anak Adam, Aku jatuh sakit, tetapi kamu tidak menjengukku”, Rasulullah Saw. berkata :”Bagaimana aku bisa menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam ?”. Allah ta’aala menjawab :”Apakah kamu tidak tahu bahwa hambaku Fulan sakit, lalu kamu tidak menjenguknya. Tidakkah kamu tahu bahwa jika kamu menjenguknya maka kamu akan menjumpai-Ku di dekatnya. Wahai anak Adam, Aku telah memberi makan kepada-mu tetapi kamu tidak memberi makan kepada-Ku”,

Rasulullah Saw., berkata :”Tuhan, bagaimana saya memberi makan kepada-Mu sementara Engkau adalah Tuhan semesta alam ?”, maka Allah ta’aala menjawab :”Hamba-Ku Fulan telah memberi makan kepadamu, tetapi kamu tidak memberi makan kepadanya. Tidakkah seandainya kamu tahu bahwa jika kamu memberi makan kepadanya, maka kamu akan menjumpainya di dekat-Ku”. Wahai anak Adam aku memberikan minum kepada-mu, tetapi kamu tidak memberikan minum kepada-Ku, Rasulullah Saw. berkata :”Bagaimana aku bisa memberikan minum kepada-Mu sementara kamu adalah Tuhan semesta alam ?”, maka Allah ta’aala menjawab :”Hambaku Fulan telah memberikan minum kepada-mu, tetapi kamu tidak memberikan minum kepada-nya. Tidakkah kamu ketahui bahwa jika kamu memberi minum kepada-nya, maka kamu akan menjumpainya di dekat-Ku”. (Dikeluarkan oleh Muslim di dalam Shohih-nya.)

Baca Juga : Dr. KH. Marsudi Syuhud – Umat Islam Dituntut Untuk Berkarya dan Memberi

Maka, spiritualitas dalam Islam adalah berbuat baik untuk mencari keridhaan Allah. Semoga Allah mengasihani Khalifah Umar bin Al-Khattab ketika dia berkata :”

Demi Allah, jika orang asing datang dengan bekerja dan kita datang tanpa kerja, maka mereka lebih mungkin dipuji oleh nabi Muhammad daripada kita, nanti di hari kiamat.”. Juga semoga Allah mengasihani Pemikir Islam, Jamal al-Din al-Afghani ketika Ia mengulangi :”Saya tidak mengerti arti dari perkataan mereka bahwa :”Fana’ ada di dalam Allah”, sebaliknya, fana’ ada pada makhluk Allah dengan mengajari mereka, membuat mereka sadar akan sarana kebahagiaan mereka dan apa yang baik untuk mereka”.

Dan spiritual dalam islam adalah karya cipta yang mempunyai tujuan Ridho Allah swt. Dalam islam tidak disekat antara materi dan spritual, malah keduanya sesungguhnya harus connection.
.
.
Pengajian Kitab السياسة الاقتصادية الاسلامية (Islamic Economic Policy) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

Penulis: Affan Abdillah
#part 29

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *