Dr. KH. Marsudi Syuhud – Menjadi Pemimpin Tidak Boleh Serakah


hobindonesia.id Al-Mawardi di dalam bukunya al-Ahkam al-Sultaniyyah menetapkan beberapa syarat bagi setiap orang yang bertindak atas nama penguasa di salah satu negara bagian, sebagai berikut :

Salah satunya : kejujuran, agar tidak mengkhianati apa yang dipercayakan, dan tidak menipu dalam apa yang telah dia dinasehati.

Kedua : kejujuran dialek, agar dia bisa mempercayai pengalamannya dalam apa yang dia lakukan, dan mengerjakan perkataannya saat dia mengakhirinya.

Ketiga : sedikitnya keserakahan agar tidak disuap dalam hal-hal berikut, dan tidak tertipu untuk menuruti keinginan sendiri.

Keempat : bebas dari permusuhan dan perseteruan antara dirinya dengan orang lain, karena permusuhan itu menyingkirkan persamaan dan mencegah simpati.

Kelima : hendaklah dia adalah seorang lelaki dengan apa yang dia pimpin ke dan dari khalifah. Karena dia mengobservasi untuknya dan kepadanya.

Keenam : kecerdasan dan ketajaman sehingga segala urusan tidak mengelabui dirinya lalu menjadi kecurigaan, dan tidak mengaburkan dirinya dan menjadi bingung. Maka keputusan tidak sah dengan kecurigaannya, dan keteguhan tidak sesuai dengan kebingungannya. Uraian ini telah diungkapkan oleh Menteri Al-Ma’mun, Muhammad bin Yazdad, di mana ia mengatakan syair dari bahar thowil :
إصابة معنى المرء روح كلامه # فإن أخطأ المعنی فذاك موات
Sasaran makna seseorang adalah semangat pidatonya. Jika artinya salah, maka itu mati
إذا غاب قلب المرء عن حفظ لفظه # فيقظته للعالمين سبات
Jika hati seseorang tidak ada dalam menghafal pengucapannya. Maka kebangkitannya ke dunia adalah tidur nyenyak

Baca Juga:Dr. KH. Marsudi Syuhud – Pejabat Harus Memiliki Kompetensi Dan Kapabilitas

Ketujuh : hendaklah dia tidak menjadi salah satu dari ahli hawa nafsu, sehingga nafsu menuntunnya dari kebenaran ke kepalsuan, dan orang yang benar menipunya dari orang yang sesat. Karena nafsu itu menipu dan mengalihkannya dari kebenaran, dan itulah sebabnya Nabi Muhammad Saw bersabda :
حبك الشيءَ يعمي ويصم
Artinya :“Cintamu pada sesuatu akan membutakan dan mentulikan”.

Ini adalah pandangan ulama pada pemimpin yang adil. Adapun kelompok ekstrimis tidak memiliki pengalaman atau visi, baik dalam hal agamanya maupun dalam masalah dunianya. Mereka tidak tahu konstruksinya dan tidak ada satupun dari mereka yang pandai membangun. Sesungguhnya mereka hanyalah orang-orang destruktif yang membangun ideologi mereka dengan mencoba menciptakan celah antara rakyat dan penguasa, bahkan walaupun hal tersebut mengarah pada penggulingan negara.

Karena mereka mencoba menghasut rakyat agar melawan terhadap penguasanya untuk menjatuhkan rezim sehingga mereka dapat mendirikan rezim mereka sendiri yang tidak lebih tahu sejarah daripada perbedaan kelompok dan pengucilan mereka yang tidak berafiliasi kepadanya. Maka dari sudut pandang sempit mereka; segala sesuatu yang mengarah pada stabilitas negara tidak akan menjadi kepentingan kelompok, dan segala sesuatu yang mengarah pada melemahnya negara akan menjadi kepentingan kelompok. Jadi kami (pengarang kitab) percaya bahwa kelompok-kelompok ini adalah ancaman bagi agama dan negara.
.
.
Pengajian Kitab فقه الدولة وفقه الجماعة (yurisprudensi negara dan yurisprudensi kelompok) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

Baca Juga : Peran Pesantren Dalam Perkembangan NU di Jakarta Barat

Penulis: Afan Abdillah
#part 53

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *