Dr. KH. Marsudi Syuhud – Muslim Dituntut Menghormati Pemimpin Yang Adil


hobindonesia.id Kepercayaan pada pekerjaan umum itu berat, karena Nabi kita Muhammad Saw berkata kepada guru kita Abu Dzar r. a :
يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ ضَعِيفٌ، وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَاَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا
Artinya :“Wahai Abu Dzar, kamu itu lemah, dan (jabatan) itu amanah, dan (jabatan) itu adalah kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang menerimanya sebab kewajibannya, dan melaksanakannya”(Shohih Muslim : Kitab al-Imaroh, Bab Karohatil Imaroh bi Ghairi Dloruratin, Nomor : 4823).

Dalam hadis tersebut bisa diartikan, ia memenuhi apa yang menjadi hutangnya dari kemajuan konsekuensinya, dan tidak mengabaikan apa yang dipercayakan kepadanya atau yang telah dipercayakan Allah kepadanya. Jika konsekuensi dari kegagalan untuk menjalankan kepercayaan ini adalah kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, maka sesungguhnya pahala bagi orang yang memenuhi kewajibannya dan membayar hutangnya adalah kehormatan Allah (yang maha kuasa dan mulia) kepadanya, yakni Allah memberi naungan kepadanya di bawah naungan singgasana-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya.

Bahkan, dia akan berada di garis depan yang ditutupi oleh Allah (yang maha kuasa dan agung) dengan pahala dan kemurahan hati yang besar ini. Dalam sekilas ini juga kita memahami hadits baginda kita Rasulullallah Saw, di mana beliau bersabda :
ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِيْنَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفَتَّحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ
Artinya :“Tiga orang yang doanya tidak ditolak; imam yang adil, orang yang berpuasa ketika ia berbuka, dan doa orang yang teraniaya. Dia (Allah) mengangkat doanya di atas langit, dan pintu langit dibuka untuknya, dan Tuhan (yang maha mulia dan maha agung) berfirman : demi kemuliaan-Ku, sungguh Aku akan benar-benar akan menolongmu walupun setelah waktu tertentu”(Sunan Tirmidzi : Kitab Shifah al-Jannah, Bab Maa ja’a fiy Shifatil Jannati wa Na’iymiha, Nomor 2717).

Baca Juga: Dr. KH. Marsudi Syuhud – Setiap Orang Adalah Pemimpin

Dengan ketentuan penguasa yang adil seperti ulama dan ahli hukum. Jika dia ijtihad tetapi salah, maka untuknya satu pahala, dan jika dia ijtihad tetapi benar, maka untuknya dua pahala. Nabi kita Muhammad Saw bersabda :
إذَا حَگمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ
Artinya :“Jika penguasa memutuskan dan ijtihad kemudian benar, maka baginya dua pahala, dan jika dia memutuskan dan ijtihad kemudian salah, maka baginya satu pahala”(Shohih Bukhari : Kitab al-I’tishom bi al-Kitab wa as-Sunnah, Bab Ajrul Hakim Idza Ijtahada, Nomor : 6805. Dan Muslim : Kitab al-Aqdliyyah, Bab Bayanu Ajril Hakim Idza Ijtahada, Nomor 324).

Dan Islam telah menyeru kita untuk menghormati sultan yang adil dan benar yang takut pada Allah (yang maha kuasa dan agung) dalam urusan rakyatnya, seperti yang dikatakan Nabi kita muhammad Saw bersabda :
إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللهِ تَعَالَى : إِكْرَامُ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ، وَحَامِل الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَالجَافِي عَنْهُ، وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ
Artinya :“Sesungguhnya sebagian dari mengagungkan Allah yang maha luhur adalah memuliakan orang yang memiliki uban yang islam, menghormati hamilul qur’an yang tidak menggelegak di dalamnya juga tidak bengis darinya, dan memuliakan sultan yang adil” (Sunan Abi Dawud : Kitab al-Adab, Bab fiy Tanziylin Nas Manaziluhum, Nomor : 4845).

Kata “المقسط” merupakan isim fa’il, dari fi’il madli “أقسط”. Sedangkan huruf hamzah pada kata “أفسط” merupakan hamzah ta’diyyah. Sebagian darinya “أزال القَسْط”, dengan dibaca fathah, artinya “أزال الظلم”(menghilangkan kezaliman). Dia tidak puas dengan mencapai keadilan, tetapi telah berusaha keras untuk menghapus ketidakadilan dari yang tertindas dan membawa mereka keadilan, belum lagi upayanya untuk memenuhi kebutuhan orang-orang, menjaga kenyamanan mereka, dan berusaha pada apa yang baik untuk agama dan dunia mereka. Seperti ini layak mendapatkan doa dan pertolongan. Berikut ini adalah perkataan sayyidina Abu Bakar Al-Siddiq, r. a :“Patuhi aku selagi aku taat pada Allah dan Rasul-Nya. Jadi jika aku tidak mematuhi Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajiban taat kepadaku bagi kamu”.
.
.
Pengajian Kitab فقه الدولة وفقه الجماعة (yurisprudensi negara dan yurisprudensi kelompok) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

Baca Juga : Peran Pesantren Dalam Perkembangan NU di Jakarta Barat

Penulis: Afan Abdillah
#part 50

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *