Dr. KH. Marsudi Syuhud – Umat Islam dituntut Untuk Menjadi Orang Kaya


hobindonesia.id Ekonomi Sosialis maupun kapitalis keduanya mempunyai tujuan yakni, kalau kepentingan ekonomi kapitalis untuk mengambil keuntungan sebesar besarnya untuk sendiri. Sedangkan sosialis merealiasasikan kemakmuran bersama dan ditujukan untuk kepentingannya sendiri juga.

Sedangkan ekonomi ketuhanan ditujukan tidak untuk dirinya sendiri. Artinya, tujuannya bukan untuk mencari uang sebanyak – banyaknya, atau bukan untuk memerdekakan orang banyak. Tapi, tidak ditujukan untuk dirinya sendiri melainkan sebagai alat untuk mencapai kemakmuran dan kebahagiaan.

Yang pada dasarnya sistem ekonomi positif yang berjalan sekarang, dua-duanya mempunyai tujuan untuk dirinya masing – masing.

Menurut persepsi pandangan islam bahwa dunia adalah ladang menanam untuk mencapai akhirat.

Maka dari itu dapat diartikan bahwa harta yang banyak bukan menjadi tujuan dalam islam, tapi itu sebagai alat perantara untuk mencapai keridhoan Allah swt. Jadi, harta menurut doktrin ekonomi islam/ketuhanan itu bukan menjadi tujuan utama. Melainkan hanya sebagai wasilah untuk menuju kepada Allah.

Dalam ekonomi Islam, walaupun kepentingan material menjadi sasaran dan tujuan; Namun, hal itu tidak dimaksudkan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan sebagai sarana untuk mencapai kemakmuran dan kebahagiaan manusia. Artinya, bahwa menurut konsepsi Islam, dunia adalah ladang di akhirat, dan manusia adalah Khaliifatul Allah (suksesor Allah) di Bumi-Nya :”إِنِّی جَاعِلٌ فِی ٱلۡأَرۡضِ خَلِیفَةً”.

Karenanya, uang dalam Islam bukanlah tujuan itu sendiri. Dan jika seorang Muslim dibebankan untuk mencari, menginvestasikan dan mengembangkan uang, maka dia tidak memintanya untuk dirinya sendiri, tetapi sebagai sarana efektifnya dalam perjalanannya menuju Allah ta’aala, seperti yang dikatakan Rasulullah Saw. :”Sebaik-baik pertolongan atas takwa kepada Allah adalah harta”. (Diriwayatkan oleh ad-Dailami di dalam al-Firdaus. Lihat (Mengungkap tembus pandang dan melepas pakaian dari hadits terkenal pada orang/manusia) oleh Imam Al-Ajlouni, diterbitkan oleh Dar Ahya Al-Turath Al-Arabi – Beirut, Volume Dua, hal 320, Hadits No. 2820.)

Baca Juga : Dr. KH. Marsudi Syuhud – Ekonomi Islam Menjamin Keamanan Perilaku Sosial

Dan Allah yang Maha Besar benar :”أَلَمۡ تَرَوۡا۟ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِی ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَمَا فِی ٱلۡأَرۡضِ وَأَسۡبَغَ عَلَیۡكُمۡ نِعَمَهُۥ ظَـٰهِرَةً وَبَاطِنَةً”( Surat Luqman, ayat No. 20.) , furman-Nya :”وَهُوَ ٱلَّذِی جَعَلَكُمۡ خَلَـٰۤىِٕفَ ٱلۡأَرۡضِ وَرَفَعَ بَعۡضَكُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجَـٰتٍ لِّیَبۡلُوَكُمۡ فِی مَاۤ ءَاتَىٰكُمۡۗ”, firman Allah Swt. :”وَٱلَّذِینَ هُمۡ لِأَمَـٰنَـٰتِهِمۡ وَعَهۡدِهِمۡ رَ ٰعُونَ” dan firman-Nya :”ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَىِٕذٍ عَنِ ٱلنَّعِیمِ”. (Surat At-Takatsur, ayat No. 8)

Akibat dari hal tersebut di atas adalah terdapat faktor pembeda dalam ilmu ekonomi Islam, yaitu bahwa materi tersebut walaupun ada di dalamnya tetap dibutuhkan karena Allah yang Maha Luhur berfirman :”فَٱنتَشِرُوا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُوا۟ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ”,(Surat Al-Jumu’ah, ayat No. 10.) firman-Nya yang Maha Luhur :”وَلَقَدۡ مَكَّنَّـٰكُمۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ وَجَعَلۡنَا لَكُمۡ فِیهَا مَعَـٰیِشَۗ”, (Surat Al-A’raf, ayat No. 10.)

Ucapan Rasulullah Saw. :“Mencari halal adalah kewajiban” dan ucapan Rasulullah Saw. :Sebagian dari pemahaman pria adalah ia hendaknya memperbaiki pencahariannya”. Namun hal tersebut tidak dimaksudkan untuk kepentingannya sendiri, karena Allah yang Maha Luhur berfirman :”فَأَمَّا مَن طَغَىٰ وَءَاثَرَ ٱلۡحَیَوٰةَ ٱلدُّنۡیَا فَإِنَّ ٱلۡجَحِیمَ هِیَ ٱلۡمَأۡوَىٰ”, firman-Nya yang Maha Luhur :”وَمَا ٱلۡحَیَوٰةُ ٱلدُّنۡیَاۤ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلۡغُرُورِ”,( Surat Ali ‘Imran, ayat No. 185). ucapan Rasulullah Saw. :”Budak dinar dan budak dirham sengsara” dan ucapan Rasulullah Saw. :”Cinta dunia adalah kepala (penyebab) dari setiap dosa”( Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam asy-Syuab dan ad-Dailami di dalam al-Firdaus. Lihat Kashf Al-Khafah oleh Imam Al-Ajlouni, referensi sebelumnya, Volume Satu, hal. 344 Hadis No 1099. Lihat juga dalam komentarnya tentang fatwa Ibn Taymiyyah, The Kingdom of Saudi Arabia Edition, Juz 11 hal. 107 dan Juz 18 hal. 23).

Sebaliknya, uang dalam Islam dibutuhkan untuk mengingat Allah yang Maha Luhur dan untuk berbicara dengan karuni dan nikmat-Nya :”وَٱبۡتَغُوا۟ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَٱذۡكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِیرا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ”, firman-Nya :”وَٱبۡتَغِ فِیمَاۤ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡـَٔاخِرَةَۖ”,( Surat Al-Qashash, ayat No. 77.) ucapan Rasulullah Saw. :”Sebaik-baik harta yang baik adalah bagi lelaki yang Sholih” dan ucapan-Nya :” Tidak apa-apa menjadi kaya bagi orang yang bertakwa”.( Surat Al-Qashash, ayat No. 77.)

Sesungguhnya ayat – ayat di atas menjelaskan, bahwa orang islam berekonomi tidak untuk mencapai keuntungan saja. Tapi, isinya keuntungan hanya untuk sebagai wasilah sebagai kehidupan/kebahagiaan di akhirat.

Tujuan dari pada ekonomi ketuhanan tidak semata-mata hanya kepada materi saja. Ini dibuktikan dari al-qur’an dan as-sunnahnya. Maka dari itu anda harus bisa memahami secara konteks dan keseluruhan tujuan antara ekonomi kapitalisme, ekonomi sosialis dan Ekonomi ketuhanan.
.
.
Pengajian Kitab السياسة الاقتصادية الاسلامية (Islamic Economic Policy) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

Penulis: Affan Abdillah
#part 31

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *