Dr. KH. Marsudi Syuhud – Peperangan Kita Hari Ini Adalah Peperangan Ekonomi


hobindonesia.id Melanjutkan pembahasan selanjutnya nomer tiga yakni tentang, ‘ Hakekat Dari Tantangan Israel.’ Pentingnya ekonomi Islam dan perannya dalam perang ketertinggalan dan perkembangan ekonomi semakin meningkat, terutama bagi negara-negara Arab.

Ketika kita melihat bahwa tantangan yang kita hadapi dari Israel bukan hanya tantangan perang, tetapi pada dasarnya adalah tantangan ekonomi. Maka, Israel mencari kendali ekonomi atas teritorial Arab. Maka, pertempuran kita dengan Israel tidak terbatas pada menghilangkan efek agresi, melainkan terkait dengan keterbelakangan ekonomi kita dan perlunya pembangunan ekonomi yang mendesak, yang karenanya kita harus merekrut semua kekuatan dan kemampuan bangsa Arab.

Bahaya yang kita hadapi bukanlah kekuatan Israel, tetapi kegagalan bangsa Arab dan keterbelakangan mereka, terutama secara ekonomi meskipun kemampuan material dan manusia mereka tidak terbatas (Dunia Arab sendiri adalah salah satu dari banyak tenaga kerja dan keahlian ilmiah, juga dari kekayaan yang luar biasa dan dana surplus yang cocok sebagai dasar untuk mendirikan negara adidaya yang berdiri berdampingan dengan Amerika Serikat, Uni Soviet, Eropa Arab, Jepang dan Cina. Namun, faktor-faktor ini belum memainkan perannya karena kurangnya solidaritas, integrasi, dan persatuan dunia Arab. Sebaliknya, dunia Arab masih mengimpor semua kebutuhannya dan bergantung pada luar, bahkan untuk makanan, meskipun diketahui bahwa ia memiliki setidaknya 250 dua ratus lima puluh juta hektar yang dapat dibudidayakan dan belum dieksploitasi <>)

Dari sini, kita dapat melihat pentingnya persatuan Arab yang komprehensif dan itu adalah kesatuan yang sakral juga tak terelakkan. Dan hal itu tidak menuntut mereka hanya berdasarkan sejarah, tetapi lebih kepada masa depan sebelum sejarah, di zaman di mana entitas kecil tidak lagi memiliki tempat dan dalam keadaan di mana persyaratan pembangunan ekonomi melebihi kapasitas satu negara.

Baca Juga : Dr. KH. Marsudi Syuhud – Memajukan Ekonomi dan Menghilangkan Ketertinggalannya, Sama Saja Dengan Amar Makruf Nahi Mungkar

Mari kita berikan contoh bahwa beberapa negara Arab, seperti Arab Saudi, Libya, Kuwait, atau Abu Dhabi, memiliki modal dari dana yang diperlukan untuk pembangunan sementara mereka kekurangan tenaga kerja dan keahlian teknis. Tidak seperti negara lain, seperti Mesir, yang memiliki kelebihan tenaga kerja dan keahlian teknis sementara mereka kekurangan modal.

Maka, mereka dapat saling melengkapi. Dengan demikian, pembangunan ekonomi akan tercapai dan keterbelakangan yang merupakan inti dari konflik kita dengan Israel dapat dihilangkan. Jika kita mengkompensasi keterbelakangan ekonomi, maka Israel dan mereka yang ada di belakangnya tidak akan dianggap sebagai ancaman bagi kita, juga kita akan mampu menghadapi dan hasilnya pada akhirnya akan menguntungkan kita.

Agar hal ini terjadi, kita harus sangat menyadari bahwa persatuan Arab yang komprehensif tidak dipaksakan, seperti halnya tidak dengan slogan dan emosi, juga tidak dicapai dengan cara politik dan berbagai bentuk konstitusional ( Lihat Profesor Ghazi Abdul-Rahman Al-Qusaibi, dalam bukunya yang berjudul <>, Edisi Riyadh 1398 H. /1978 M., bab tentang Persatuan Arab dari halaman 5 sampai 15).

Sebaliknya, persatuan ini dicapai dalam praktiknya, dan terutama dikonfirmasi dengan menghubungkan negara-negara Arab satu sama lain secara ekonomi. Sesungguhnya persatuan bangsa-bangsa Jerman tidak tercapai kecuali dengan menghubungkan mereka ke rel kereta api dan dengan Zolfrin yang merupakan persatuan bea cukai.

Bahwa persiapan persatuan ekonomi Eropa hanya dicapai melalui kesepakatan Binolex antara Belanda, Belgia dan Luksemburg. Bahwa persiapan untuk persatuan politik Eropa sekarang mengambil arah melalui Pasar Bersama Eropa. Bahwa kebangkitan Jepang setelah kekalahannya yang tercela dalam Perang Dunia Kedua dan tantangannya saat ini terhadap Amerika juga memaksakan kehendaknya pada masyarakat internasional adalah hasil tak terelakkan dari rencana rasional barunya “politik untuk melayani ekonomi”, bukan “ekonomi untuk melayani politik”.

Apapun kasusnya; sesungguhnya kita harus menyatakannya sebagai perang suci melawan agresi Israel dan keterbelakangan ekonomi. Hendaknya kita menghubungkan pertempuran kita untuk menghilangkan efek agresi dan untuk pembangunan ekonomi dengan pikiran jihad suci. Juga hendaknya negara-negara Arab terhubung secara ekonomi sebagai langkah dasar pertama dan sebagai jalur terpendek yang pasti mengarah pada koneksi politik mereka.
.
.
Pengajian Kitab السياسة الاقتصادية الاسلامية (Islamic Economic Policy) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

Penulis: Affan Abdillah
#part 44

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *