Dr. KH. Marsudi Syuhud – Pertimbangkanlah Beban dan Tanggung Jawab Sebelum Memutuskan Menerima Tawaran Pekerjaan


hobindonesia.id Dengan kebutuhan untuk menyadari bahwa tanggung jawab adalah tugas sebelum menjadi suatu kehormatan, dan siapa pun yang melihatnya hanya melihat kehormatan yang menantikannya, bahkan di bawah pengawasan jiwa. Seringkali itu terhanyut oleh jebakan dan konsekuensinya, dan siapa pun yang membawanya ke arah yang benar dari tugas atau sumber pesan, dia mendapatkannya dari pertolongan Allah ta’alaa.

Maksudnya manakala anda ditawari sebuah pekerjaan di suatu bidang, maka pertama kali hal yang harus anda lakukan adalah mempertimbangkan beban dan tanggung jawab di bidang pekerjaan tersebut, bukan mengharap kemuliaannya. Misal anda ditawari jabatan untuk menjadi menteri ekonomi, maka anda harus memikirkan bagaiamana beban dan tanggungjawab menjadi menteri ekonomi. Apakah nanti kalau anda menjadi menteri ekonomi anda mampu atau tidak ?, dan apakah anda bisa amanah atau tidak ?. Jika anda merasa mampu dan amanah, silakan anda menerimanya. Bukan malah justru anda memikirkan kemuliaannya, yakni kemuliaan menjadi menteri ekonomi, semacam akan mendapatkan gaji bulanan dengan nilai nominal yang relatif tinggi, akan dikenal publik, akan di-tokoh-kan, atau akan dihormati dan sebagainya. Jangan juga anda menggunakan “aji mumpung”. Mumpung ada yang menawari, maka anda memanfaatkannya. Jadi, pemikiran “aji mumpung” ini tidak boleh. Karena saat kita berbicara tentang tawaran pekerjaan itu berarti berbicara juga tentang siapa yang mampu sekaligus amanah, bukan sekedar tentang siapa yang mau. Tentang ini, Nabi kita Muhammad Saw berkata kepada Abd al-Rahman bin Samra :

لَا تَسْأَلِ الإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا، وَإِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا
Artinya :”Jangan engkau minta kepemimpinan !. Karena sesungguhnya jika engkau diberi kepemimpinan tanpa meminta, maka Allah akan menolongmu atas kepemimpinan itu. Dan jika engkau diberi kepemimpinan karena meminta, maka engkau akan diserahi pada kepemimpinan itu”(Shohih Bukhari : Kaffaarotul Aymaan, Bab al-Kaffarotu Qablal Khintsi wa Ba’dahu, Hal. 6722. Dan Shohih Muslim : Kitab al-Aymaan, Bab, Nadbi Man Khalafa Yamiinan fa Roa Ghairohaa Khoiron minhaa an Ya’tiya al-Ladzii huwa Khoirun wa Yukaffiro ‘an Yamiinihi, Hal. 4370).

Baca Juga:Dr. KH. Marsudi Syuhud – Serahkanlah Segala Urusan Kepada Ahlinya

Seperti telah kita ketahui di pembahasan sebelumnya bahwa ada 3 model cara memilih seorang pembantu dalam tugas kepemimpinan, yakni; 1). Dipilih/ditunjuk langsung oleh pemimpin tertinggi, 2). Direkomendasikan/dari rujukan orang lain, dan; 3). Seorang pembantu dalam kepemimpinan yang mengajukan diri. Jika kita mengetahui hadis di atas, maka dari semua model ini, yang terbaik adalah model yang diberi, entah yang diberi oleh pemimpin tertinggi maupun yang diberi karena rekomendasi/rujukan orang lain. Nabi Muhammad Saw telah mengatakan bahwa sebuah kekuasaaan yang diberi (bukan dari hasil mengajukan diri) itu adalah yang terbaik, karena Allah Swt akan membantunya dalam pekerjaannya. Ini bukan berarti tidak boleh meminta kekuasaan (mengajukan diri). Tetap boleh mengajukan diri dengan syarat kompeten dan amanah.

Namun persoalan pertanggungjawaban bertambah dengan adanya tugas yang dipercayakan kepada masing-masing pejabat, sehingga semakin luas cakupan tanggung jawabnya diperlukan spesifikasi khusus, yang terpenting diantaranya adalah : efisiensi, kompetensi, pengalaman, kejujuran, dan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas tanggung jawab itu beserta konsekuensinya, dimana setiap orang bertanggung jawab dihadapan dirinya, dihadapan manusia, dan dihadapan Allah atas apa yang dipercayakan, disimpan atau hilang ?.

Efiisien yang dimaksud semacam bisa mendahulukan yang prioritas. Seandainya anda menjadi seorang menteri ekonomi, diberi tanggungjawab dalam hal perekonomian. Lalu anda diberi sejumlah dana di kementrian yang anda pimpin. Bagaimana anda memprioritaskan kebutuhan yang anda pakai dan efisiensinya. Efisiensi bukan hanya soal mendahulukan yang lebih penting, namun juga untuk memilih untuk penggunaan yang lebih lama dan lebih besar manfaatannya serta usaha meminimalisir kerugian. Sebagaimana Nabi kita Muhammad Saw bersabda :

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، قَالَ : وَحَسِبْتُ أَنْ قَدْ قَالَ : وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya :”Setiap kalian adalah seorang pemimpin dan setiap kalian bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Laki-laki adalah pemimpin di dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang pelayan adalah pemimpin di dalam kekayaan tuannya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Dia berkata : Saya pikir dia berkata : Seorang pria adalah pemimpin dalam kekayaan ayahnya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Dan setiap kalian adalah seorang pemimpin dan bertanggung jawab dari kepemimpinannya”(Shohih Bukhari : Kitab al-Jum’at, Bab al-Jum’atu fil Quro wal Madan, Hadis nomor 893. Shohih Muslim : Kitab al-Imaaroh, Bab Fadliilatul Imamil ‘Aadili wa ‘Uquubatihil Jaairi wal Khatstsi ‘alal ar-Rifqi bi ar-Ra’iyyati wa an-Nahyi ‘an Idkhoolil Masyaqqati ‘alayhim, Hadis nomor : 4828. Dan Sunan Abi Daud : Kitab al-Kharaj, Bab Maa Yalzamul Imaama min Haqqi ar-Ra’iyyati, Nomor 2930).
Dan beliau bersabda :
إِنَّ اللّٰهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ، أَحَفَظَ أَمْ ضَيَّعَ، حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ
Artinya :”Sesungguhnya Allah meminta pertanggungjawaban kepada setiap pemimpin tentang apa yang telah dia pikat, apakah dia telah menjaga atau menyia-nyiakan, sampai Dia (Allah) itu bertanya tentang orang-orang di rumahnya”(Sunan Kubro milik an-Nasa’i, Kitab ‘Asyrotun Nisa, Abwaabul Mulaa’anah, Mas’alatu kulli Raa’in ‘ammaa Isytaro, Hadis nomor 8833).

Orang yang rasional bukannya tidak memiliki tanggung jawab, terlepas dari statusnya dalam masyarakat. Setiap orang bertanggung jawab sejauh kemampuannya, ruang lingkup stamina dan tugas yang diberikan kepadanya, dan terkadang kelalaian dalam hal yang dianggap remeh dapat mengakibatkan kerugian.
.
.
Pengajian Kitab فقه الدولة وفقه الجماعة (yurisprudensi negara dan yurisprudensi kelompok) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

Baca Juga :Dr. KH. Marsudi Syuhud : Congratulatory of Global Peace Leaders Conference Korea 2010

Penulis: Afan Abdillah
#part 16

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *