Dr. KH. Marsudi Syuhud – Runtuhnya Sebuah Negeri Didominasi Dari Faktor Internal


hobindonesia.id Tidak ada yang lebih berbahaya dalam sejarah umat manusia daripada tahapan transisi dalam sejarah negara, sampai banyak peneliti menulis banyak surat tentang jatuhnya negara dan kebangkitan negara lain, berteori dan mempraktikkan. Bahaya nyata bagi negara mana pun itu tidak datang dari luarnya. Sebagai faktor kejatuhannya itu berasal dari dalamnya, baik sebab pengkhianatan sebagian putra-putranya, pengkhianatan para pegawainya dan pengkhianatan mereka (para pegawainya) dalam membantu untuk menyerang negaranya.

Di antara pengkhianatan para pekerja/pegawai negeri tersebut dapat dideskripsikan dengan seberapa banyak pegawai negeri yang berpaham bertentangan dan selama ini disepakati bersama. Ada berapa banyak PNS, TNI, POLRI, Dosen dan sebagainya yang mengkhianati negaranya sendiri, jika ada maka inlah salah satu faktor internal runtuhnya sebuah negara. Adapun di Indonesia sudah ada pegawai yang berpaham menentang negerinya sendiri dan saya kira jumlahnya sudah cukup banyak atau faktor kegagalan putra-putranya dan keluarnya mereka dari jalan kebenaran ke jalan penyimpangan atau zalim, kesewenang-wenangan dan kesombongan.

Dalam hal ini termasuk ketidakadilan hukum, krisis ekonomi, ketidakadilan pemerintah juga menjadi bagian darinya. Beberapa kemungkinan penyebab runtuhnya sebuah negeri telah termaktub di dalam Al-Quran, sebagaimana yang maha benar (Allah Swt) mengatakan :
وَإِذَاۤ أَرَدۡنَاۤ أَن نُّهۡلِكَ قَرۡیَةً أَمَرۡنَا مُتۡرَفِیهَا فَفَسَقُوا۟ فِیهَا فَحَقَّ عَلَیۡهَا ٱلۡقَوۡلُ فَدَمَّرۡنَـٰهَا تَدۡمِیرًا
Artinya :”Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”(Surat Al-Isra’, ayat 16).

Baca Juga:Dr. KH. Marsudi Syuhud – Jabatan Itu Sebuah Tanggung Jawab di Dunia dan Akhirat

Dan Dia (Allah Swt) bersabda :
فَأَمَّا عَادٌ فَٱسۡتَكۡبَرُوْا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ بِغَیۡرِ ٱلۡحَقِّ وَقَالُوا۟ مَنۡ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةًۖ أَوَلَمۡ یَرَوۡا۟ أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِی خَلَقَهُمۡ هُوَ أَشَدُّ مِنۡهُمۡ قُوَّةًۖ وَكَانُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا یَجۡحَدُونَ
Artinya :”Adapun kaum ‘Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata :”Siapakah yang lebih besar kekuatannya daripada kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami”(Surat Fushilat, ayat 15).
Dan Dia (Allah Swt) bersabda tentang kaum baginda kita nabi Sholih A.S :
وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَیۡنَـٰهُمۡ فَٱسۡتَحَبُّوا۟ ٱلۡعَمَىٰ عَلَى ٱلۡهُدَىٰ فَأَخَذَتۡهُمۡ صَـٰعِقَةُ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡهُونِ بِمَا كَانُوا۟ یَكۡسِبُونَ
Artinya :”Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan”(Surat Fushilat, ayat 17).
Dan Dia (Allah Swt) bersabda pada kaum baginda kita nabi Luth A.S :
وَلُوطًا إِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهِۦۤ أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَـٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٍ مِّنَ ٱلۡعَـٰلَمِینَ (٨٠) إِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهۡوَةً مِّن دُونِ ٱلنِّسَاۤءِۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٌ مُّسۡرِفُونَ (٨١) وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوۡمِهِۦۤ إِلَّاۤ أَن قَالُوۤا۟ أَخۡرِجُوهُم مِّن قَرۡیَتِكُمۡۖ إِنَّهُمۡ أُنَاسٌ یَتَطَهَّرُونَ (٨٢) فَأَنجَیۡنَـٰهُ وَأَهۡلَهُۥۤ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَـٰبِرِینَ (٨٣) وَأَمۡطَرۡنَا عَلَیۡهِم مَّطَرًاۖ فَٱنظُرۡ كَیۡفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلۡمُجۡرِمِینَ (٨٤)
Artinya :”Dan (Kami juga telah mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini) [80]. Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas” [81]. Dan jawaban kaumnya tidak lain hanya berkata, “Usirlah mereka (Luth dan pengikutnya) dari negerimu ini, mereka adalah orang yang menganggap dirinya suci” [82]. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikutnya, kecuali istrinya. Dia (istrinya) termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan) [83]. Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu). Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang berbuat dosa itu [84]”(Surat Al-A’raf, ayat 80-84).
.
.
Pengajian Kitab فقه الدولة وفقه الجماعة (yurisprudensi negara dan yurisprudensi kelompok) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

Baca Juga :Dr. KH. Marsudi Syuhud : Congratulatory of Global Peace Leaders Conference Korea 2010

Penulis: Afan Abdillah
#part 18

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *