Dr. KH. Marsudi Syuhud – Sebagian Orientalis Asing Telah Mendesak Untuk Menggali Potensi Kekuatan Politik, Sosial dan Ekonomi Islam


hobindonesia.id Melanjutkan pembahasan selanjutnya yakni dalam kajian yang ke -49 tentang ‘Ilmu Ekonomi Islam Menurut Beberapa Ulama Asing’ : Namun, meskipun sedikit cahaya dan upaya terbatas untuk menyoroti beberapa aspek ekonomi Islam, kami akhirnya mendengar suara-suara asing internasional menyerukan adopsi doktrin (ideologi) ekonomi Islam.

Hanya saja dia mengklarifikasi salah satu aspeknya di hadapannya, sama saja dalam hal menggabungkan kepentingan material dan kebutuhan spiritual, atau tidak mengorbankan kepentingan pribadi atau kepentingan publik dan berusaha mendamaikannya, atau menggabungkan antara ketetapan, pengembangan dan dialektikanya sendiri.

Kami tidak tahu sejauh mana antusiasme dunia yang tercerahkan terhadap doktrin ekonomi Islam jika kebijakannya menjadi jelas baginya untuk diselesaikan, juga jika solusi rinci dan aplikasi praktis disajikan kepadanya.

Ini adalah filsuf sosialis dan internasional Inggris Bernardshaw, yang setelah mempelajari dengan cermat, mengulangi perkataannya :”Saya melihat Islam sebagai agama Eropa di akhir abad ke-20″ (Lihat Malek Bennabi, The Problem of Ideas in the Islamic World, Edisi Kairo 1971 M, Perpustakaan Ammar). Dan sebelumnya, pemikir besar Jerman Goethe berkata, “Jika ini Islam, haruskah kita tidak semua menjadi Muslim” (Haidar Bammate (George Rivoire), Faces Of Islam, Ed. Payot Lausanne, 1958, hal. 21).

Ini adalah ekonom Prancis, Jacques Ostry, yang mengakhiri bukunya tahun 1961 (Islam dalam menghadapi pertumbuhan ekonomi), bahwa jalur pembangunan ekonomi tidak terbatas pada dua ekonomi kapitalis dan sosialis yang terkenal. Tetapi, di sana ada ekonomi ketiga yang lebih disukai yaitu ekonomi islam yang menurutnya nampak akan menang di dunia masa depan karena itu adalah cara sempurna untuk hidup un mode total de vie yang memenuhi semua keuntungan dan menghindari semua kerugian (Austruy (Jacques), I’Islam menghadapi ekonomi pembangunan, les Editions ouvrieres, paris 1961).

Baca Juga : Dr. KH. Marsudi Syuhud – Kebijakan Ekonomi Islam Itu Mengakui, Memelihara Dan Mendamaikan Kontradiksi Dialektika Sosial

Ini adalah orientalis Prancis Raymond Charles pada tahun 1969 M, mengomentari surat kami yang dikirimkan dalam bahasa Prancis untuk mendapatkan gelar doktor negara bagian tentang masalah keterbelakangan dunia Islam (“Masalah dekadensi dunia Muslim”. Skripsi Doktor Negara, Fakultas Hukum Caen, 20 Januari 1967).

Pada gilirannya, ia menegaskan bahwa Islam memetakan jalan yang berbeda menuju kemajuan, seperti di bidang produksi ia mengagungkan pekerjaan dan melarang semua bentuk eksploitasi, di bidang distribusi ia mengakui dua aturan “untuk setiap tingkat kecukupan pertama” sebagai hak ilahi suci yang dijamin oleh negara untuk setiap individu terlepas dari agama atau kebangsaannya, kemudian “untuk masing-masing sesuai dengan pekerjaan dan usahanya”.

Seperti disebutkan dalam hadits Nabi, :”Tidak apa-apa menjadi kaya bagi orang yang bertakwa”; dan bahwa dalam semua kasus, Islam tidak mengizinkan revolusi dan kekayaan kecuali setelah pengentasan kemiskinan dan kekurangan, Ia juga tidak mengizinkan kemewahan dan pemborosan dan ingin mencapai keseimbangan ekonomi di antara anggota masyarakat (Charles (Raymond), “Hukum Islam dan Sosialisme Muslim”, Revue de la Vie Judiciare, Paris, 1969 hal. 6 dan 10).

Saat ini, kita menyadari pada beberapa orientalis mendesak kebutuhan untuk kembali ke Islam dan mempelajari potensinya, terutama kekuatan politik, sosial dan ekonomi (Gardet (Louis), “Kota Muslim-Kehidupan sosial dan politik”, edisi ketiga, Librarie Vrin, Paris, 1969).
.
.
Pengajian Kitab السياسة الاقتصادية الاسلامية (Islamic Economic Policy) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

Penulis: Affan Abdillah
#part 49

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *