Dr. KH. Marsudi Syuhud – Sebuah Kekuasaan Dibangun Dengan Harta dan Ilmu


hobindonesia.id Dan tidak ada yang bisa menyangkal keutamaan ilmu, statusnya, dan dampaknya pada pembangunan negara, seperti yang dikatakan penyair :
بالعلم والمال يبني الناس مُلكهم
Dengan ilmu dan harta, orang membangun kerajaannya
لم يُبن مُلْكٌ على جهلٍ وإقلال
Sebuah kerajaan tidak dibangun dengan kebodohan dan penurunan
Yang lain mengatakan :
أروني أمة بلغت مناها
Tunjukkanlah kepadaku suatu bangsa yang telah menggapai anugerahnya
بغير العلم أو حد اليماني
Dengan tanpa ilmu atau batas Yaman
Dan dalam sebuah narasi :
أروني أمة بلغت مناها
Tunjukkanlah kepadaku suatu bangsa yang telah menggapai anugerahnya
بغير العلم والسيف اليماني
Dengan tanpa ilmu dan pedang Yaman

Namun, ilmu yang diadopsi negara adalah setiap ilmu yang berguna berdasarkan pemahaman teks dan yurisprudensinya dengan pemahaman yang tercerahkan yang tidak meniadakan peran pikiran dalam merenungkan teks dan hubungannya, selagi teks itu bukan qath’iy astubut, qath’iy ad-dilalah yang merupakan teks yang sangat terbatas, di mana kebijaksanaan Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung) mensyaratkan bahwa kitab dan Sunnah mencakup aturan umum, prinsip umum dan tujuan umum, dan itu diserahkan kepada para mujtahid dari ahli pertimbangan dan ahli pandangan dengan memperhatikan tabiat waktu, tempat, kondisi, adat istiadat dan kebiasaan yang dipertimbangkan dalam tujuan umum tersebut. Itu adalah salah satu rahasia luas dan fleksibilitas Syariah.

Baca Juga : Dr. KH. Marsudi Syuhud – Tidak Sama Antara Ilmu Dalam Perspektif Negara Dan Perspektif Kelompok

Berdasarkan hal tersebut, kami (pengarang kitab) memahami bahwa segala sesuatu yang disebutkan dalam pembinaan ilmu adalah mencakup ilmu yang mutlak, dan bukan hanya ilmu fiqih saja, atau ilmu tafsir saja, atau ilmu hadits saja, atau ilmu bahasa saja, akan tetapi mencakup keunggulan dalam segala ilmu yang bermanfaat bagi manusia dalam urusan agama atau urusan dunia mereka.

Konsep periode ilmu berkembang pesat dengan mengerikan dan mengejutkan. Adalah kesalahan yang jelas untuk membatasi konsep ilmu yang Al-Qur’an mendesak kita untuk memperhatikannya hanya pada ilmu-ilmu Syariah. Akan tetapi, ilmu mencakup segala ilmu yang membawa manfaat bagi orang-orang dalam urusan agama mereka dan urusan duniawi mereka, dalam ilmu Islam atau Arab, atau ilmu kedokteran, atau ilmu farmasi, atau ilmu fisika, atau ilmu kimia, atau ilmu astronomi, atau ilmu teknik, atau ilmu mekanik, atau ilmu energi, serta ilmu lain yang telah menjadi dunia digitalisasi yang memegang posisi garis terdepan darinya. Saya (pengarang kitab) melihat bahwa Allah Swt berfirman :
هَلۡ یَسۡتَوِی ٱلَّذِینَ یَعۡلَمُونَ وَٱلَّذِینَ لَا یَعۡلَمُونَۗ إِنَّمَا یَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ
Artinya :“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”(Surat az-Zumar, ayat 9).
Dan firman-Nya :
فَسۡـَٔلُوۤا۟ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ
Artinya :“Maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui”(Surat al-Anbiya’, ayat 7).
Lebih umum untuk membatasi atau membatasi salah satunya pada ilmu Syariah saja, karena masalahnya terbuka untuk setiap ilmu yang berguna. Jadi kami (pengarang kitab) bertanya kepada setiap spesialis di bidang spesialisasinya, dokter di bidang kedokteran, para insinyur di bidang insinyur, ahli hukum di bidang hukum, para ulama hukum islam di bidang spesialisasi mereka, dan ilmuwan teknologi di bidang keahliannya.
.
.
Pengajian Kitab فقه الدولة وفقه الجماعة (yurisprudensi negara dan yurisprudensi kelompok) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

Baca Juga : Peran Pesantren Dalam Perkembangan NU di Jakarta Barat

Penulis: Afan Abdillah
#part 43

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *