Dr. KH. Marsudi Syuhud – Setiap Entitas yang Merasa Berada di Atas Hukum Merupakan Otoritas Paralel yang Membahayakan


hobindonesia.id Jika kita percaya bahwa tidak ada paksaan dalam agama, percaya bahwa peran ulama adalah retorika yang jelas, dan percaya bahwa mereka adalah dai dan pembimbing, bukan penguasa atau hakim, maka sesungguhnya hal ini memerlukan kejelasan tentang hubungan antara dakwah dan otoritas, dengan ketentuan bahwa otoritas paralel yang coba dibuat oleh beberapa entitas terkadang berupa agama, intelektual, atau budaya, atau ekonomi, atau sosial, melalui aktivitas beberapa asosiasi, atau di bawah setiap nama lain.

Kesimpulannya, setiap entitas yang merasa berada di atas hukum dan di atas akuntabilitas dan masalahnya sampai pada persepsi dan pemahaman untuk dimintai pertanggungjawaban adalah otoritas paralel yang menimbulkan bahaya atau tekanan pada negara hukum dan penegakannya. Kami (pengaranag kitab) menerapkan keadilan yang komprehensif kepada semua orang tanpa pengecualian adalah solusi terbaik untuk menyelamatkan supremasi hukum. Berikut ini adalah ucapan baginda kita, Rasulullah Saw, mengatakan :
إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرِقَ فِيْهِمْ الشَّرِيْفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرِقَ فِيْهِمْ الضَّعِيْفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَإِنِّي وَالَّذِى نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
Artinya :“Sesungguhnya Dia (Allah Swt) membinasakan orang-orang yang sebelum kamu adalah hanya karena jika orang yang terhormat mencuri dari mereka, mereka membiarkannya, dan jika orang yang lemah mencuri dari mereka, mereka menetapkan hukuman padanya. Sesungguhnya Aku, demi dzat yang yang jiwa-ku ada di tangan-Nya, seandainya Fatimah Binti Muhammad mencuri, tentu aku akan memotong tangannya” (Shohih Bukhari : Kitab al-Jumat, Bab Man Intadhara Hatta Tudfana, Hadis nomor 4304. Dan Shohih Muslim : Kitab al-Hudud, Babu Qath’is Sariqi asy-Syarif wa Ghairihi, wa an-Nahyi ‘an asy-Syafa’ati fil Hudud, Hadis nomor 1688).

Dan berikut ini adalah ucapan sayyidina Abu Bakar r. a ketika di hadapkan pada kekhalifahannya :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ وُلِّيْتُ عَلَيْگُمْ وَلَسْتُ بِخیْرِگُمْ، فَإِنْ ضَعُفْتُ فَقَوِّمُونِي، وَإِنْ أَحْسَنْتُ فَأَعِيْنُونِي، الصِّدْقُ أَمَانَةٌ، وَالْكَذِبُ خِيَانَةٌ، الضَّعِيْفُ فِيْكُمْ الْقَوِيُّ عِنْدِي حَتَّى أُزِيْحَ عَلَيْهِ حَقَّهُ إِنْ شَاءَ اللهُ، وَالْقَوِيُّ فِيْكُمْ الضَّعِيْفُ عِنْدِي حَتَّى آخُذَ مِنْهُ الْحَقَّ إِنْ شَاءَ اللهُ.. أَطِيْعُونِي مَا أَطَعْتُ اللهَ وَرَسُولَهُ، فَإِذَا عَصَيْتُ اللهَ وَرَسُولَهُ فَلَا طَاعَةَ لِي عَلَيْكُمْ
Artinya :“Wahai manusia, aku telah dipercayakan kepadamu, padahal aku bukan terbaik di antara kamu. Jika aku lemah, maka luruskan aku, dan jika aku melakukan dengan baik, maka bantulah aku. Kejujuran adalah amanah, dan kebohongan adalah pengkhianatan. Orang yang lemah pada diri-mu adalah orang yang kuat di sisi-ku, hingga aku memburu kebenaran darinya, insya Allah. Dan orang yang kuat pada diri-mu adalah orang yang lemah di sisi-ku, hingga aku mengambil kebenaran darinya, insya Allah… Taatilah aku selagi aku taat kepada Allah dan utusan-Nya. Jadi apabila aku mendurhakai Allah dan utusan-Nya, maka janganlah kalian taat kepada-ku”(Siyaratu ibn Hisyam bagian 4 halaman 240. ‘Uyuun al-Akhbar bagian 2 halaman 234. al-Bidayah wa an-Nihayah bagian 5 halaman 248).
.
.
Pengajian Kitab فقه الدولة وفقه الجماعة (yurisprudensi negara dan yurisprudensi kelompok) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

Baca Juga : Peran Pesantren Dalam Perkembangan NU di Jakarta Barat

Penulis: Afan Abdillah
#part 36

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *