Dr. KH. Marsudi Syuhud – Sistem Ekonomi Islam Bukan Himpunan Antara Sistem Ekonomi Kapitalis Dan Sosialis


hobindonesia.id Melanjutkan pembahasan yang selanjutnya yakni tentang “Evaluasi Pendapat Sahabat Abu Dzar al-Ghafari”; Ini adalah keyakinan kami bahwa apa yang disebut oleh sahabat Abu Dzar al-Ghafari pada masa kekhalifahan Usman, bahwa seorang Muslim tidak boleh memiliki lebih dari kebutuhannya, dianggap sebagai yurisprudensi Islam yang benar dalam keadaan luar biasa yang dialami bangsa Islam pada saat itu dan terutama munculnya kelas-kelas yang kaya akan kekayaan dan kemewahan sementara banyak yang menderita kemiskinan dan kekurangan.

Baca juga : Dr. KH. Marsudi Syuhud – Unsur Utama Kebijakan Ekonomi Islam adalah Rekonsiliasi

Maka, Islam seperti yang dijelaskan sebelumnya, tidak mengizinkan kekayaan kecuali setelah memastikan tingkat kecukupan bagi setiap warga negara. Sedangkan disparitas pendapatan tidak bisa dimengerti kecuali setelah kemiskinan, kelaparan dan kekurangan benar-benar dihilangkan. Kelemahan pendapat Abu Dzar adalah hanya pada melampaui batas dan upaya untuk menggeneralisasi persatuan ini, mengklaim bahwa ini adalah aturan Islam dalam semua keadaan. Padahal, itu tidak mengungkapkan aturan Islam kecuali dalam keadaan luar biasa, sehingga hanya pengecualian yang digunakan sebagai obat sementara dan sebanyak yang diperlukan. Hal ini diungkapkan oleh sayyidina Umar ibn al-Khattab dengan mengatakan :“Aku berhati-hati untuk tidak meninggalkan kebutuhan tetapi untuk memenuhinya selama sebagian kita mengakomodasi sebagian lainnya, jika kita tidak dapat menyediakan mata pencaharian kita sampai kita setara dalam subsistensi”.( Ibn Al-Jawzi, Sejarah Umar Ibn al-Khattab,)
.
.
Pengajian Kitab السياسة الاقتصادية الاسلامية (Islamic Economic Policy) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

Penulis: Affan Abdillah
#part 23

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *