Dr. KH. Marsudi Syuhud – Tiga Prinsip Kemaslahatan Dalam Ekonomi Islam


hobindonesia.id Sesungguhnya anda harus bisa memahami tentang ekonomi pancasila secara detail dan real, sebab ekonomi pancasila atau ekonomi islam nanti kedepannya akan membahas tentang berbagai kemaslahatan yang berbeda – beda sebab kondisi. Artinya kebijakan sekarang pasti ada perbedaan dengan besok. Sebab kemaslahatan bisa berubah kapanpun dan dimanapun. Jadi, ketika membuat kebijakan anda harus bisa melihat situasi dan kondisinya.

Pembahasan yang kedua, tentang اختلاف المصالح باختلاف الظروف ‘perbedaan kemaslahatan sebab perbedaan keadaan’. Artinya merealisasikan suatu kebijakan yang dianggap maslahat pada keadaan tertentu, tidak bisa dianggap seperti itu di keadaan lain. Dalam arti ini bahwa Imam asy-Syathibi berkata di dalam buku-nya al-Muwaffaqat :“Sesungguhnya urusan di mayoritas kemanfaatan dan kemudharatan hendaknya sebagai suplemen bukan yang nyata”.

Barangkali perbedaan kemaslahatan sebab perbedaan keadaan adalah suatu kebijakan yang telah diseru sebagian para Ilmuan islam untuk menafsirkan subhatnya riba dari bunga yang diberikan oleh dana tabungan. Contohnya juga dana yang diberikan oleh obligasi pemerintah dan sertifikat investasi.

Baca Juga : Dr. KH. Marsudi Syuhud – Dasar Legislasi Kebijakan Ekonomi Islam adalah Kemaslahatan

Selanjutnya nomer tiga yakni tentang, وتقديم المصالح أهميتها ‘mendahulukan kemaslahatan dengan mempertimbangkan signifikasinya’. Begitu pula menetapkan kemaslahatan yang dimaksud syariat dengan mempertimbangkan signifikasinya. Maka ada tiga prinsip kemaslahatan dalam ekonomi islam:

(1) Kemaslahatan dharuriyah yakni keperluan yang memperkirakan kehidupan orang. Apabila ia kehilangan ini, maka macetlah sistem kehidupannya, seperti menjaga agama, jiwa, akal, harta atau kehormatan.

(2) Kemaslahatan hajiyat (keperluan yang dibutuhkan manusia untuk kemudahan dan menanggung tuntutan-tuntutan hidup. Apabila mereka kehilangan, maka mereka menerima kekurangan dan penderitaan.

(3) Dan yang terakhir kemaslahatan tahsiniyat yakni yang menghiasi kehidupan manusia. Kekurangannya terorgnisir di luar manusia dari yang dibutuhkan kelengkapan kemanusiaan

Tetapi sesungguhnya dharuriyah tidak dalam satu posisi, maka dharuriyah tidak diperhatikan jika dalam pertimbangan nya adalah mengganggu dharuriyah yang lebih penting darinya; seumpama hajiyat dan tahsiniyat. Dari sana, maka sungguh meminum arak telah dibolehkan apabila terpaksa untuk meminumnya seperti haus sekali karena untuk menjaga jiwa dan tidak mempertimbangkan menjaga akal, karena sesungguhnya menjaga jiwa lebih penting daripada menjaga akal. Dan telah dibolehkan membuka aurat apabila ini diperlukan untuk penyembuhan operasi luka, karena menutup aurat adalah tahsiniyat sedangkan mengobati adalah dharuriyah.

Mendahulukan kemaslahatan dengan mempertimbangkan siginifikansinya menjadi sebab dalam kebiasaan islam pada kehidupan yang mewah, lebih-lebih ketika tidak tersedia untuk sebagian keperluan yang dasar. Mendahulukan kemaslahatan dengan mempertimbangkan siginifikansinya adalah kebijakan yang dibiasakan khalifah Umar bin khattab selamanya ber-ulang-ulang firman Allah : وَبِئْرٍ مُعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ مَشِيدٍ
.
.
.
Pengajian Kitab السياسة الاقتصادية الاسلامية (Islamic Economic Policy) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *