Dr. KH. Marsudi Syuhud – Umat Islam Dituntut Untuk Berkarya dan Memberi


hobindonesia.id Perlu diketahui ada beberapa faktor pembeda dalam perekonomian Islam, salah satunya yaitu arah kegiatan ekonomi kepada Allah Swt.; yang memberi aktivitas ini keyakinan dan karakter spiritual juga perasaan puas dan yakin.

Di sini, muncul poin penting yang sering menghinggapi banyak orang, termasuk para ahli, yaitu Islam tidak mengetahui pemisahan antara yang material dan spiritual, serta tidak membedakan antara yang duniawi dan yang ukhrowi. Jadi, setiap material atau aktivitas duniawi yang dilakukan seseorang, dalam pandangan Islam, adalah tindakan spiritual atau ukhrawi selama itu sah dan ditujukan kepada Allah ta’aala.

Maka tidak benar bahwa ada konflik antara agama dan dunia atau ada ruang bagi aktifitas duniawi dan aktifitas eskatologis. Islam tidak mengetaahui pemisahan metafisik antara kebutuhan material atau spiritual dan perbedaan antifisial antara aktifitas duniawi atau aktifitas ukhrawi, kecuali atas dasar legistimasi pekerjaan dan keinginan Allah.

Baca Juga : Dr. KH. Marsudi Syuhud – Ekonomi Islam Sebagai Sarana Efektif Untuk Kesejahteraan Individu Dan Masyarakat

Dikatakan bahwa beberapa Sahabat melihat seorang pemuda yang kuat bergegas untuk pekerjaannya. Lalu beberapa dari mereka berkata: “Jika dia di jalan Allah”, Nabi menjawab :“Jangan katakan ini !, karena jika dia pergi mencari putranya yang masih kecil, maka dia di jalan Allah. Jika dia pergi mencari dua orang tua yang lanjut usia, maka itu di jalan Allah. Jika dia pergi mencari dirinya sendiri untuk memaafkannya, maka dia di jalan Allah dan jika dia pergi mencari kemunafikan dan membual, maka dia di jalan Setan”.( Dikeluarkan oleh as-Suyuthi di dalam al-Jaami’ as-Shoghiir).

Lebih dari itu, tanda keimanan sejati dalam Islam adalah karya yang bermanfaat dan produksi materi yang membawa kebaikan bagi masyarakat. Allah Swt., berfirman :“وَقُلِ ٱعۡمَلُوا۟ فَسَیَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۖ” ( Surat At-Taubah, ayat No. 105.) dan dia berfirman :“لَّا خَیۡرَ فِی كَثِیر مِّن نَّجۡوَىٰهُمۡ إِلَّا مَنۡ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوۡ مَعۡرُوفٍ أَوۡ إِصۡلَـٰحِۭ بَیۡنَ ٱلنَّاسِۚ”.(Surat An-Nisa’, ayat No. 114.).

Dan dia (Rasulullah Saw.) menjawab bahwa cara yang efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’aala dan mendapatkan persetujuannya adalah dengan mencintai dan membantu para hamba-Nya juga bahwa sesungguhnya “kedudukanmu di sisi Allah adalah sesuai dengan kadar kedudukanmu di sisi manusia” seperti halnya bahwa sesungguhnya “paling dicintainya manusia di sisi Allah adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya”. (Dikeluarkan oleh as-Suyuthi di dalam al-Jaami’ as-Shoghiir)

Salah seorang sahabat ingin menyendiri dan melakukan i’tikaf untuk mengingat Allah ta’aala, maka Rasulullah Saw. berkata kepadanya: “Jangan lakukan itu, karena sesungguhnya martabat salah satu dari kamu di jalan Allah (yaitu, demi masyarakat) adalah lebih baik daripada shalat di rumahnya selama tujuh puluh tahun.
.
.
Pengajian Kitab السياسة الاقتصادية الاسلامية (Islamic Economic Policy) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

Penulis: Affan Abdillah
#part 28

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *