Dr. KH. Marsudi Syuhud – Umat Islam Dituntut Untuk Menghormati Penguasa Yang Adil


hobindonesia.id Dari penjelasan pertemuan sebelumnya, kita telah mengetahui bahwa akan adanya kelompok ekstrimis yang berusaha melemahkan sebuah negara. Kelompok ini sudah tertulis di dalam beberapa redaksi hadis Nabi. Artinya bahwa keberadaan mereka adalah sebuah kenisacayaan.

Maksudnya adalah mau tidak mau, mereka akan tetap ada. Kalau di Indonesia ciri-ciri mereka antara lain; mengkafirkan sesama umat islam, mengatakan liberal, PKI, sekuler dan varian ungkapan yang berkonotasi negatif kepada umat islam selain golongannya. Pola memecah belah sesama umat islam tersebut merupakan pola yang telah terjadi di wilayah Timur Tengah, di mana semenjak beberapa tahun yang lalu juga sudah nampak jelas di negara kita (Indonesia).

Namun, hukum yang benar telah berbicara kepada kita tentang menghormati penguasa yang adil, berdiri di sampingnya, membantunya dan berkumpul di sekitarnya. Islam sejatinya memerintahkan untuk taat pada pemerintah selagi tidak sewenang-wenang.

Kurang apalagi hidup di Indonesia, kita hidup 24 jam non stop tidak ada larangan untuk beribadah, bahkan pemerintah menfasilitasi dan membantu sebagaimana saat masa pandemi ini telah memberikan bantuan sembako, obat-obatan, masker dan sebagainya. Sehingga terbersit sebuah tanda tanya besar kalau ada kelompok yang masih saja merasa pemerintah tidak adil, atau merasa tidak bisa menjalankan agama secara maksimal karena suatu kebijakan pemerintah. Nabi kita (SAW) bersabda :
إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللّهِ : إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ, وَحَامِل الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَالْجَافِي عَنْهُ, وَإِكْرَامَ ذَي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ (سنن أبي داود)
Artinya :”Sesungguhnya Sebagian dari memuliakan Allah adalah memuliakan orang tua muslim, memuliakan penghafal Alquran yang tidak berlebih-lebihan dan tanpa berlonggar-longgaran, dan memuliakan penguasa yang adil”( Diriwayatkan oleh Abu Daud).

Namun, kelompok-kelompok ekstremis ini selain mendistorsi ucapan dari posisinya, sungguh telah mempengaruhi gagasan dan pikiran sebagian besar pemimpin mereka dengan kelebihan atau stagnasi dan pengerasan.

Belum lagi kesempitan pikiran dan stagnasi anggota dan penganutnya pada fenomena beberapa teks. Bahkan ketika ucapan beberapa sarjana atau ahli hukum tingkat lanjut atau bahkan pendapat dan ucapan tidak dicentang, mereka menempatkan perkataan ini pada posisi teks suci.

Baca Juga :Dr. KH. Marsudi Syuhud – Selalu Ada Dua Kelompok Di Dunia; Yang Mempertahankan dan yang Melemahkan Negara

Maka mereka memandang perkembangan dan variabel yang tunduk pada ijtihad, pendapat dan pendapat lain pada posisi konstanta suci. Mereka juga melihat bahwa agama itu mutlak dan logam murni yang bersih dalam kebodohan dan khayalan buta, terutama karena mereka memiliki kepala bodoh yang mendapatkan ketidaktahuan dan kekakuan dan mempertahankannya dalam pembelaan putus asa. Inilah yang Nabi kita peringatkan kepada kita (SAW), dengan mengatakan :
إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ صُدُوْرِ الِّجَالِ, وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعُلَمَاءَ, حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا, اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوْسًا جُهَّالًا, فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ, فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا (رواه البخاري)
Artinya :”Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dengan benar-benar mencabut dari dada (hati) para lelaki. Tetapi Allah mencabut para Ulama. Sehingga ketika tidak tersisa orang Alim, maka manusia mengambil (menjadikan) orang-orang bodoh sebagai kepala (pemimpin). Lalu mereka ditanyai, maka mereka memberi fatwa tanpa ilmu. Maka mereka sesat dan menyesatkan”(Diriwayatkan oleh al-Bukhari).

Kejadian demi kejadian kita lihat di media sosial, di mana banyak orang “bodoh” (tidak mumpuni) dalam bidang ilmu agama dengan seenaknya mengartikan teks-teks Alquran dan Assunah secara serampangan (ngawur). Menafsirkannya sesuai dengan hawa nafsu/keinginannya sendiri. Mereka juga berani berbicara dengan panjang lebar dan menjelaskan di depan para muridnya (pengikutnya) terhadap apa yang sesungguhnya mereka sendiri tidak paham perihal ilmu agama, seperti berfatwa atau menjawab pertanyaan tanpa didasari kemampuan pada berbagai macam ilmu yang merupakan bagian dari ilmu agama.

Jika mengacu pada hadis di atas, maka kita mengetahui bahwa ternyata fenomena “orang-bodoh yang dijadikan panutan” tersebut menunjukkan semakin hilangnya ilmu sebab telah hilangnya ulama. Ulama wafat (meninggal dunia) satu persatu, sehingga kemudian yang dijadikan pemimpin (panutan) adalah orang-orang bodoh. Ini juga berarti bahwa ilmu agama semakin hari semakin berkurang dan terus berkurang dari generasi ke genarasi selanjutnya. Adapun di era ini, kita sudah benar-benar mulai melihat hilangnya ilmu itu dengan jelas, karena adanya kenyataan pahit di mana sebagian orang-orang bodoh era ini dijadikan pemimpin (panutan).

Dengan demikian, kesimpulan yang dapat diambil adalah; kita harus lebih berhati-hati dalam memilah dan memilih orang untuk dijadikan pemimpin (panutan) dalam baragama. Tidak bisa langsung begitu saja menganggap Ulama pada individu tertentu hanya karena dilihat dari segi penampilannya saja yang mirip Ulama. Namun harus melihat juga dari segi keilmuannya, apakah benar-benar mumpuni atau tidak untuk dijadikan pemimpin (panutan) dalam beragama.
.
.
Pengajian Kitab فقه الدولة وفقه الجماعة (yurisprudensi negara dan yurisprudensi kelompok) Bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud.

Baca Juga :Dr. KH. Marsudi Syuhud : Congratulatory of Global Peace Leaders Conference Korea 2010

Penulis: Afan Abdillah
#part 02

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *