Harlah NU : Mengenang Sejarah Kelahiran NU


hobindonesia.id Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia. Menjadi organisasi sebesar sekarang ini, tentunya berawal dari perjalanan panjang dan perjuangan dari para pendiri. Meski identik dengan islam tradisional, NU membuktikan perannya hingga tingkat nasional.

Pada akhir tahun 1924 santri As’ad diminta oleh Mbah Cholil untuk mengantarkan sebuah tongkat ke Tebuireng. Penyampaian tongkat tersebut disertai seperangkat ayat Al-Qur’an Surat Thaha ayat 17-23 yang menceritakan Mukjizat Nabi Musa As.

Awalnya, KH Chasbullah pada tahun 1924 menggagas pendirian Jam’iyyah yang langsung disampaikan kepada K.Hasyim Asy’ari untuk meminta persetujuan. Namun Kiai Hasyim tidak lantas menyetujui terlebih dahulu sebelum ia melakukan solat istikarah untuk meminta petunjuk kepada Allah Swt.

Sikap bijaksana dan kehati-hatian Kiai Hasyim dalam menyambut permintaan Kiai Wahab juga dilandasi oleh berbagai hal, diantaranya posisi Kiai Hasyim saat itu lebih dikenal sebagai Bapak Umat Islam Indonesia (jawa), Kiai Hasyim juga menjadi tempat meminta nasihat bagi para tokoh pergerkan nasional. Peran kebangsaan yang luas dari Kiai Hasyim Asy’ari itu membuat ide untuk mendirikan sebuah organisasi harus dikaji secara mendalam.

Hasil dari istikharah Kiai Hasyim Asy’ari dikisahkan oleh KH.As’ad Syamsul Arifin. Beliau mengungkapkan, petunjuk hasil dari istikharah Kiai Hasyim Asy’ari justru tidak jatuh di tanganya untuk mengambil keputusan, melainkan diterima oleh KH Cholil Bangkalan, yang juga guru Mbah Hasyim dan Mbah Wahab.

Dari petunjuk tersebut, Kiai As’ad yang ketika itu menjadi santri Mbah Cholil berperan sebagai mediator antara Mbah Cholil dan Mbah Hasyim. Ada dua petunjuk yang harus dilaksanakan oleh Kiai As’ad sebagai penghubung atau washilah untuk menyampaikan amanah mbah Cholil kepada mbah Hasyim.

Dari proses lahir batin yang cukup panjang tersebut menggambarkan bahwa lika-liku lahirnya NU tidak banyak bertumpu pada perangkat formal sebagaimana lazimnya pembentukan organisasi. NU lahir berdasarkan petunjuk Allah Swt. Terlihat di sini, fungsi ide dan gagasan tidak terlihat mendominasi. Faktor penentu adalah konfirmasi kepada Allah Swt. melalui ikhtiar lahir dan batin.
.
.

Baca Juga : Peran Pesantren Dalam Perkembangan NU di Jakarta Barat

Penulis : Rokhmi Noviatussani

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *