Dr. KH. Marsudi Syuhud : Tiga Hal Yang Menghambat Kesuksesan

hobindonesia.id Setiap individu pasti mempunyai keinginan dan cita-cita yang berbeda. Dengan adanya keinginan itulah seseorang dalam berproses untuk mencapai cita-cita yang akan dicapai , orang tersebut dituntut untuk mencari jati dirinya yang sesunguhnya. Salah satunya, seseorang harus mempunyai cita-cita untuk berbuat yang bermanfaat kepada orang banyak. Artinya, perbuatan itu berbentuk yang positif dan berguna bagi orang lain, di lain sisi orang tersebut juga belajar saling memberi dan berbagi untuk bisa bermanfaat bagi orang lain, dengan cara apapun.

RASULULLAH SAW bersabda : خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”.

Semakin banyak orang yang mengambil manfaat dari kita, itu makin baik. Sebab, dari kemanfaatan itulah kita bisa belajar untuk saling memberi kepada orang yang membutuhkan. Oleh sebab itu, sesungguhnya kita sudah belajar untuk bermanfaat kepada orang lain. Seperti halnya, kita hidup dalam suatu organisasi.

Sejalan dengan hal tersebut , sesungguhnya ada 3 ‘pembunuh’ yang tidak pernah kita sadari. Tapi, selalu kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.

القتلة الشلاشة، وهي : اللوم، والنقد، والمقارنة

1) Menyalahkan orang.
Sifat seperti ini sering kita temukan dalam keseharian kita berinteraski sesama orang lain. Sesunggunya sifat seperti ini harus kita jauhkan dari orang yang ingin memulai hidup. Sebab akan membuang-buang waktu saja. Alangakah lebih baiknya kita bekerja yang bisa bermanfaat untuk orang lain.

2) Mengkritik terus – menerus.
Mengkritik sebenarnya bagus dalam ruang lingkup organisiasi atau yang lainnya. Tapi, kalau kita ‘mengkritik tanpa memberi solusi’ ini yang seharusnya kita lawan. Artinya, sebaik – baik kritikan adalah mengkritik yang berlandaskan pada solusi yang tepat. Sebab yang sering kita temukan secara realitasnya , orang hanya bisa mengkritik tanpa memberi saran atau solusi dari apa yang sudah dia kritik, alangakah lebih baiknya setelah kita mengkritik , kita bisa memberi contoh apa yang sudah kita kritik. Sebab, sesungguhnya orang yang sukanya mencaci maki terus menerus tidak akan menyelesaikan masalah.

3) Membandingkan terus – menerus. Membandingkan ini masih berkaitan juga dengan mengkritik. Di samping itu membandingakn boleh, asalkan guna untuk menumbuhkan rasa percaya dan keinginan untuk terus maju. Adanya perbandingan, sebab masih ada yang perlu dibenahi dalam organisasi tersebut. Dengan adanya membandingkan organisasi itulah yang akan membuat suatu perubahan.

Dari pada waktu kita habis untuk melakukan 3 hal tersebut, lebih baik kita melakukan kebaikan dan berkarya yang bisa bermanfaat dan berguna untuk orang lain. Kalau kita mencela kita tidak akan mendapatkan keuntungan. Lebih baik gunakan waktumu untuk bekerja.

Dalam kehidupan nyata, seandainya kita menjadi pemimpin kalau tidak bisa mengendalikan orang yang akan kita pimpim. Sebaiknya kita menyesuaikan terlebih dahulu situasi dan kondisi orang yang akan kita pimpin. Setelah itu kita mencoba secara perlahan untuk merubah perilakunya, karakternya. Dengan begitu, fahami dulu kalau sudah sesuai dengan apa yang kita inginkan tinggal mendorong saja sesuai jalan yang kita tentukan. Atau bisa juga perilaku kita yang harus dirubah terlebih dahulu. Contohnya kalau kita memasuki suatu pemukiman yang kita tidak tahu latar belakangnya seperti apa. Kita bisa merubah diri kita terlebih dahulu baru mengikuti mereka.

Pada hakikatnya “Hidup ini pilihan kita, setiap hari kita memilih. Dan setiap kejadian hidup itu tergantung pada pilihan kita.”

Ingin menjalani kehidupan yang bahagia menjadi imipian semua orang. Dan tidak mungkin ada orang yang mengingkan hidup tidak bahagia, atau ingin hidup dalam kesengsaraan. Kalaupun ada, mungkin cuma sedikit.

Kita harus melihat diri kita sendiri, jati diri kita masing-masing, apakah yang sudah kita lakukan untuk mencapai kebahagiaan tersebut? Sudahkah ada hal yang anda lakukan untuk mengantarkanmu kepada kebahagiaan?.

Realitasnya sekarang banyak kita temukan, orang yang mengakatakan ‘Aku ingin masuk surga’. Apakah hal-hal yang sudah dilakukan bisa membawa masuk surga. Dan rata-rata yang dilakukan malah kebalikannya. Artinya, mulutnya ingin masuk surga tapi, perilakunya tidak mencerminkan itu semua. Termasuk orang yang munafiq dan mendzolimi dirinya sendiri. Jika, ada seseorang yang seperti itu dan akan sulit untuk mencapai suatu kebahagiaan. Dengan begitu dekatkan keinginan kita sesuai dengan perilaku kita. Kalau bisa perilaku dan omongannya harus sama. Kuncinya, kalau ingin sukses satukan antara usaha dan keinginannya.

Dari sekarang, mari kita semua membuat suatu planning dalam hidup. Dari situlah kita akan sadar bahwa kita hidup bukan cuma menjalani suatu proses saja. Tapi, bagaiaman proses tersebut bisa membawa kemanfaatan bagi orang lain.

~Pengajian Kitab ايقظ قدرتك واصنع مستقبلك “Bangkitkan kemampuan anda dan ciptakan masa depan anda” bersama Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta Dr. KH. Marsudi Syuhud. Halaman 70-71

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *