Membangun Jiwa Santri Entrepreneurship di Era Pandemi


hobindonesia.id Santri dikenal mempunyai karakter mandiri, sederhana, tidak mudah menyerah serta berani mengambil resiko. Karakter santri demikianlah yang menjadi modal berjiwa enterpreneurship. Apalagi dalam membangun jiwa wirausaha di masa pandemi saat ini menjadi pilihan yang tepat, namun harus dilakukan secara lebih kreatif dan inovatif.

Ketua bidang perekonomian Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta, Aqil Tsabata mengatakan, di era pandemi saat ini Pesantren diharapkan mampu mencetak para santrinya untuk bisa hidup mandiri dan kreatif melalui enterpreneur.

“Adanya pandemi Covid-19 ini mendoroang santri lebih kreatif, produktif dengan skill dan kemampuan yang dimiliki, para santri harus pintar melihat peluang yang dikembangkan pada saat ini,” kata Aqil Tsabata, kepada Tim Media Pesantren Ekonomi, Sabtu (23/1).

Sebagai salah satu Pesantren yang berlatar belakang Pesantren Ekonomi menjadi tantangan tersendiri untuk menjawab Pesantren kita sudah mempunyai produk apa.

“Sejauh ini, para santri memulai merintis usaha sablon baju yang sudah mendapat pesanan dari luar kota, koperasi Pesantren dan menjual makanan ringan makroni yang ditawarkan di warung terdekat, meskipun hasilnya tidak seberapa, di era pandemi saat ini akan memberi dampak keuntungan santri dalam mengembangkan skill yang dimiliki,” ujarnya.

Baca Juga : Peran Pesantren Dalam Perkembangan NU di Jakarta Barat

Perlu digarisbawahi juga, bahwa untuk mengembangkan keilmuan yang ditujukan pada santri tidak saja terbatas pada pendidikan agama serta pendidikan formal, namun juga pada pengembangan jiwa kewirausahaan.

“Santri bisa mengalokasikan hidup di lingkungan Pesantren dengan berentrepeneurship kecil-kecilan, yang tentunya tidak menghabiskan banyak waktu. Hal itu bisa menambah pemasukan bulanan santri. Apabila santri harus sadar, banyak sekali usaha yang bisa dilakukan. Seperti halnya yang sudah dikerjakan santri Pesantren Ekonomi Darul Uchwah, sablon baju dan koperasi Pesantren,” tambahnya

Adapun semangat kewirausahaan dalam jiwa santri dapat mengubah keadaan yang timbul dari keyakinan bahwa santri tidak boleh melihat segala sesuatu secara statis, santri memerlukan pemikiran yang out of the box.

“Semua santri harus mempunyai jiwa dagang, jiwa wirausaha, mampu marketing, baik itu marketing diri sendiri, martekting usahanya maupun marketing keilmuannya,” harapannya.

Selain itu, ia berpesan bagaimanapun pendidikan harus dinomersatukan. Karena santri tidak mungkin menjadi pengusaha yang andal, profesional di bidangnya kalau santri tidak didukung dengan keilmuan yang mumpuni, meskipun jurusannya pendidikan agama islam, hukum, maupun teknik mereka juga masih mempunyai kemungkinan menjadi pengusaha yang sukses.

Kontributor: Khabib

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *