Menjadi Kader PMII yang Nyantri


Al-muhafadhah ‘alal al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid alashlah

(Mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru (kemodernan) yang lebih baik)

Para kader PMII sebagian besar merupakan kalangan warga pedesaan. Mereka merupakan putra-putri terbaik desa dan berasal dari kalangan elite desa, seperti kyai, guru ngaji di langgar, ketua ta’mir masjid atau anak petani desa yang kaya. Jenjang pendidikan mereka juga berasal dari pendidikan keagamaan Islam. Dimulai dari Madrasah Ibtida’yah (semacam SD), Madrasah Tsanawiyah (SMP), sampai Madrasah Aliyah (SMA). Di samping itu, mereka juga belajar dan mengenyam pendidikan akhlak dan pengetahuan keislaman di lembaga pendidikan Islam bernama pesantren.

Setelah rentetan pendidikan berbasis keagamaan ini selesai, baru mereka kemudian melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi yakni Perguruan Tinggi Islam. Ada juga sebagian yang melanjutkan ke Perguruan Tinggi Umum. Dari struktur hierarki pendidikan inilah yang kemudian mencetak mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam organisasi bernama PMII.

Liberal dan Tradisional

Transmigrasi warga PMII dari dunia desa ke kota ini memberi konsekuensi logis bahwa secara otomatis mereka akan mengalami dunia yang berbeda dengan dunia pendidikan sebelumnya. Warga PMII di kampus akan mendapatkan tantangan baru baik dalam pemikiran maupun tindakannya. Betapa tidak, mereka akan beradaptasi dengan lingkungan baru yang sangat berbeda dengan keadaan sebelumnya. Terpecahlah mereka ke dalam dua kelompok.

Baca Juga : Peringatan Maulid Nabi Kita, Kebahagiaan Kita

Pertama kelompok yang liberal. Kondisi kampus yang tidak mempunyai aturan-aturan semacam di pesantren membuat banyak dari mereka melepaskan kungkungan kultur kedesaan dan kesantriannya. Bahkan bisa melangkah lebih jauh dari itu. Hal ini bisa dibuktikan dengan cara pakaian mereka, pergaulan, serta berbagai literatur bacaan-bacaan baru yang mereka dapatkan. Apalagi dengan dunia kampus yang begitu liar, misalkan pergaulan antara putra dan putri, lebih-lebih kajian intelektual kampus menekankan pada liberasi pemikiran. Bahkan tidak hanya dalam tataran berfikir, tetapi juga dalam pola pengkaderan dan gerakan sosial kemasyarakatan.

Ada semacam kebosanan di kalangan warga PMII yang ketika di pesantren selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan agama. Di Perguruan Tinggi mereka mencoba untuk menangkap dan mengeksplorasi masalah-masalah baru yang belum pernah digeluti. Dalam keadaan seperti ini, banyak yang beranggapan PMII tidak lagi terkontrol dalam segi keagamaan dan perilaku kesehariannya. Akibatnya, perpaduan antara konteks dunia kampus dan keinginan untuk mencoba hal-hal yang baru membuat pemikiran warga PMII menjadi liberal.

Proses pemahaman liberasi di dalam warga PMII ini berimplikasi pada tradisi pemahaman Islam yang liberal. Sebagai organisasi yang berbasis Islam tradisional, PMII justru mampu memunculkan wacana keilmuan yang melampaui batas tradisionalnya, bahkan bisa dikatakan melampaui batas kelompok moderisme Islam. PMII sangat jarang bahkan tergolong tidak pernah menjadikan rujukan-rujukan kelompok Islam modernis dalam diskursus-diskursus keilmuannya, seperti pemikiran Jamaluddin alAfghani, Sayyid Akhmad Khan, Natsir dan Nurcholis Majid. Akan tetapi PMII lebih memilih pemikiran tokoh-tokoh kiri seperti Hasan Hanafi, Muhammad Arkoun, al Jabiri dan Nasr Hamid Abu Yazid.

Mereka memahami liberasi sebagai suatu upaya pembebasan dari segala kekangan baik dari kekuasaan, tradisi, pemikiran, doktrin teologi dan ilmu pengetahuan. Mindset liberasi ini berimplikasi pada pemikiran dan perilaku yang liberal. Hal yang selaras dan wajar jika dikaitkan dengan paradigama keilmuan kampus yang mengagungkan kebebasan berfikir. Namun yang menjadi persoalan adalah bagaimana mungkin mereka menekuni studi-studi baru tanpa merawat dan melestarikan keilmuan-keilmuan lama di pesantren dulu? Mengambil keilmuan baru dengan tanpa melestarikan keilmuan lama yang masih relevan merupakan arogansi intelektual. HA. Chalid Mawardi (salah satu pendiri PMII) menyebutnya sebagai Snobisme Inteletual, sebuah penyakit yang berada dalam transisi dari tingkat tradisional ke tingkat yang lebih maju.

Kedua, kelompok yang tradisional. Sebagaian dari mereka memiliki mindset yang idealis dengan tradisi keagamaan pesantren. Mereka tetap menjalankan dan menggeluti tradisi keilmuan pesantren dan cenderung apatis terhadap keilmuan Perguruan Tinggi yang dianggapnya melampaui batas-batas etika keilmuan. Pengajaran di kampus yang berupa Sistem Kredit Semester (SKS) mereka anggap hanya sekedar formalitas untuk menjalankan perkuliahan kampus, bukan sebagai ajang eksplorasi keilmuan baru dalam perkembangan intelektualitasnya. Biasanya golongan ini tinggal di pesantren atau di lembaga pendidikan agama di sekitar kampus, meskipun tidak menganggap mereka keseluruhan.

Kelompok warga PMII yang teguh pada tradisi pesantren dan condong eksklusif pada keilmuan-keilmuan baru terutama teori-teori ilmuan Barat ini tidak berkenan lepas dari tradisi pesantren. Meskipun bermukim di perkotaan yang notabene merupakan tempat yang sangat dinamis dalam perkembangan keilmuannya, akan tetapi mereka tetap menolak untuk kreatif dan proporsional terhadap keilmuan mutakhir. Sebuah paradigma lama tentang keislaman tetap terpatri di dalam pemikiran intelektualitasnya. Tak jarang misalnya para dosen atau guru-guru besar kampus mereka beri label sebagai pemikir Islam yang liberal.

Demikian juga ketaatan mereka menggunakan kitab yang mu’tabarah apalagi yang bermazhab Syafi’i sehingga hampir tertutup kemungkinan untuk menggunakan logika dan paradigma jurispendensi keilmuan lain yang baru. Tradisi tekstual mereka masih sangat kokoh sehingga cara berfikirnya tetap dengan simbol dan formalisme dan semua persoalan harus didasarkan pada rujukan teks. Semangat berfikir verbalistik dengan selalu mengutip ayat, hadis, dan kaidah-kaidah fikih dalam setiap pernyataannya menjadi sebuah argumentasi yang selalu diutamakan. Namun yang menjadi persoalan adalah bagaimana mungkin mereka tetap melestarikan keilmuan-keilmuan pesantren tanpa memanfaatkan kebebasan akademis kampus yang sangat dinamis? Mempertahankan keilmuan lama tetapi apatis terhadap perkembangan keilmuan kontemporer merupakan sikap statis dan terbelakang.

Mengambil sikap

Dalam keadaan seperti ini PMII semestinya bisa mengambil sikap tengah-tengah. Sebagai alumni pesantren yang juga sarjana muslim diperlukan sebuah sikap untuk terus menjaga keilmuan pesantren dan tetap melestarikan tradisi keagamaan santri, namun tidak menafikkan keilmuan-keilmuan baru. Pada satu sisi, nantinya warga PMII akan kembali ke desa masing-masing dan mereka akan mengemban amanah untuk menjadi pemimpin agama di kalangan masyarakat. Baik itu memimpin tahlil, imam sholat, khutbah jumat, pernikah dan lain sebagainya. Dan pada sisi yang lain warga PMII sebagai kader intelektual dituntut untuk mengkampanyekan sistem sosial masyarakat yang benar dan suntikan semangat pendidikan kepada masyarakat desa. Oleh karena selama ini masayarakat desa jarang bahkan tergolong tidak pernah bertanya kepada sarjana-sarjana kampus perihal bagaimana sistem sosial yang baik, akan tetapi mungkin hanya sekitar pesoalan fikih psikologis seperti persoalan sebatas halal dan haram.

Jika warga PMII yang datang dari desa (dengan basis keilmuan pesantren) menuju perkotaan (dengan basis keilmuan perguruan tinggi) tidak memanfaatkan kebebasan akademisnya, maka mereka tidak akan memperoleh keilmuan baru. Jika di kampus tidak memanfaatkan kebebasan mimbar akademisnya maka berarti sama saja seperti di pesantren. Tidak ada bedanya menjadi santri di pesantren dan mahasiswa di kampus. Dengan kebebasan keilmuan kampus seharusnya warga PMII bisa dapat melakukan sesuatu hal yang baru.

Sebaliknya, jika mereka di kampus mencoba untuk menangkap dan mengeksplorasi masalah-masalah dan keilmuan baru tanpa mempertahankan keilmuan pesantren, maka istilah snobisme intelektual yang mengerikan ini akan menjelma dalam arogansi intelektual. Maka dari itu tanamkanlah, bahwa warga PMII nantinya tidak hanya dituntut untuk menjadi tokoh masyarakat yang hanya menentukan kasus halal dan haram atau memimpin tahlil dan berbagai tradisi keagamaan semata, akan tetapi mereka dituntut untuk berbicara dan mengkampanyekan ihwal sistem sosial masyarakat yang baik dan benar serta pentingnya pendidikan di masa depan.

Dalam konteks saat ini, tantangan PMII adalah memahami dan menjaga warisan tradisi pemikiran keagamaan lama sehingga bisa menjawab tantangan zaman mutakhir yang baru. Berbekal pendidikan pesantren dan keislaman disertai berbagai cabang ilmuilmu baru di Perguruan Tinggi, otomatis warga PMII memiliki corak pemikiran dan keilmuan yang lebih komprehensif dari para sesepuhnya. Inilah sebenarnya maksud pengamalan kaidah yang sangat populer di kalangan pesantren, “Mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru (kemodernan) yang lebih baik”, sebagaimana disebut pada awal tulisan ini.

Penulis : Ahmad Hifni

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *