Pentingnya Pendidikan Karakter Berbasis Pesantren Bagi Generasi Millenial


hobindonesia.id Bangsa Indonesia tengah memasuki revolusi digital, pemanfaatan dan pengguna Internet Of Things (IoT) akan secepatnya merubah pola pikir kehidupan manusia. Apalagi di masa sekarang teknologi lebih menguntungkan bagi para pengguna dalam mengelola dan mencari informasi di bidang apapun dengan modal internet.

Di sisi lain, tidak memungkinkan juga mudharat lebih berbahaya, apalagi dalam ruang lingkup dunia jurnalis. Akan tetapi, sering tidak kita sadari bahwa dunia ini semakin kejam dan penuh tantangan baru yang harus kita hadapi dan selesaikan bersama, mulai dari munculnya berita bohong (hoax) di media sosial, ujaran kebencian, provokasi dan mengadu domba semakin merajalela.

Diketahui bersama, bahwa generasi milenial sangat dekat dengan teknologi. Kehidupan generasi sekarang tidak bisa lepas dari teknologi, artinya generasi milenial lahir ketika handphone dan media sosial mulai muncul di Indonesia, sehingga wajar apabila generasi Z lebih melek teknologi dibanding generasi – generasi sebelumnya.

Kapan lagi kalau bukan sekarang saat yang paling tepat untuk memperbanyak literasi demi literasi untuk memperkuat argumen dalam menyuarakan kebenaran, ajakan kebaikan maupun kerukunan. Dengan memanfaatkan media sosial sebaik mungkin, mulai dari menyebarkan berita yang aktual.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنِّ اللهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثاٌ : قِيلَ وَقَالَ ، وَإِضَاعَةَ المَالِ ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ
Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla membenci tiga perkara : menyebarkan desas – desus, menghambur – hamburkan harta, banyak pertanyaan yang tujuannya untuk menyelisihi jawabannya (HR. Al-Bukhari).

Baca Juga : Harlah NU : Mengenang Sejarah Kelahiran NU

Maka dengan demikian, bekal yang harus ditanamkan dalam jiwa generasi saat ini dalam kepenulisan adalah membangun narasi – narasi positif, artinya narasi yang dimaksud sesungguhnya dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti mengabarkan informasi yang benar dan baik dengan mengeksplorasi nilai – nilai positif yang diproduksi secara terus menerus. Sebut saja, misalnya para santri selain belajar mengajar kitab yang diajarkan di Pesantren, kurang lengkap rasanya kalau tidak diimplementasikan dengan betuk tulisan. Tentunya modal utama dalam menulis, santri harus memperbanyak referensi dengan membaca.

Tidak heran apabila di Pesantren terdapat banyak nilai – nilai yang terus dikelola secara berkembang dan terus – menerus. Selain itu pesantren juga dikenal sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai peranan penting dalam transfer dan transisi ilmu pengetahuan agama.

Oleh karena itu, dunia santri tidak akan lepas dari peranan Kiai yang selalu mengajarkan kebaikan sesuai dengan tuntunan agama, bahwa apa yang sudah diucapkan akan membawa kita pada perubahan yang lebih baik dari sebelumnya agar bisa membawa kemanfaatn bagi agama dan bangsa. Begitu pula dengan kegiatan tulis – menulis (kitabah) sedikit banyak menjadi bagian dari tradisi intelektualisme pesantren dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan agama.

Di Era 4.0 saat ini literasi dalam Pesantren sudah semakin berkembang. Dengan begitu, seharusnya bisa dapat memberikan nilai – nilai positif bagi pembaca di tengah banyaknya pemberitaan yang tidak sesuai dengan fakta.

Dalam dunia pendidikan Pesantren Kiai selalu menasehati santrinya untuk terus memiliki sifat kepekaan yang kuat. Maka dari itu, Kiai selalu menyarankan santrinya untuk membaca, seperti halnya wahyu pertama yang Nabi Muhammad saw yakni, ayat pertma kali turun dalam surah Al-Alaq secara signifkan menegaskan urgensinya membaca dan belajar.

Penanaman nilai – nilai agama yang memiliki kebenaran mutlak dan berorientasi pada kehidupan ukhrawi menyebabkan santri diharapkan benar – benar memiliki aqidah, syariat yang kuat, dan ilmu pengetahuan yang mumpuni.

Penanaman nilai moral mendapatkan tempat signifikan dalam setiap Pesantren. Hal tersebut disebabkan para Kiai adalah pewaris para Nabi. Nabi tidak mewariskan apapun kecuali ilmu pengetahuan dan akhlaq yang mulia.

Salah satu wujud bahwa kita mencintai dan menghormati Rasul Allah, selain melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang di larang-Nya. Tentunya tidak ketinggalan yakni meneladani sikap terpuji Rasullah SAW yang sangat banyak, dimana setiap perilakunya sehari – hari memi
liki suri tauladan yang mesti dicontoh. Mulai dari, perkataan dan perbuatan Rasulullah merupakan budi pekerti yang baik.

Tentunya dari sikap terpuji Rasulullah, ada 4 sifat yang harus dipelajari oleh para generasi saat ini dalam menekuni dunia kepenulisan. Yakni, Shidiq (jujur), Amanah, Tablig (Komunikatif), dan Fathonah (Cerdik).

Mengutip Imam Asy Syafi’I rahimahullah ‘Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya’. Ilmu itu ibarat buruan, kalua sudah dapat, informasi sudah didapat secara akurat maka ikatlah informasi dengan tulisan, Kalau para Kiai dakwah menggunakan dakwah secara lisan, maka kita sebagai santru berarti dakwah kalam.

Maka dengan demikian, mari kita semua jadikan media massa sebagai media dakwah untuk menyampaikan syiar Islam. Menjadikan pedoman bahwa apa yang pernah kita tulis adalah sebuah hasil yang nantinya membawa perubahan ke hal yang baik pada pembaca. Kuncinya pada kejujuran yang manjadi sikap terpuji Nabi Muhammad, mari kita implementasikan pada diri kita yang ingin menjadi jurnalis.
.
.

Baca Juga : Peran Pesantren Dalam Perkembangan NU di Jakarta Barat

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *