SEHARUSNYA KITA LEBIH CEPAT DALAM MENGGAPAI KEKAYAAN


hobindonesia.id Mustahiq adalah sebuah kata dari bahasa arab yang berarti orang yang berhak. Sedangkan secara istilah dengan sederhana bisa diartikan sebagai seorang yang berhak menerima zakat, infak dan sodaqoh. Adapun muzaki juga sebuah kata dari bahasa arab yang secara bahasa diartikan sebagai orang yang berzakat. Secara istilah juga tak jauh maknanya yakni seorang yang diwajibkan untuk berzakat atau melakukan zakat disebabkan beberapa keadaan yang menuntutnya agar mengeluarkan zakat dengan ketentuan yang telah disyariatkan.

Setelah kita ketahui bahwa mustahiq dan muzakki adalah dari bahasa asing (bukan bahasa indonesia) seyogyanya penulisan kata mustahiq dan muzakki ditulis dengan format miring sesuai dengan aturan penulisan karya ilmiah yang berlaku. Ada suatu persamaan antara mustahiq maupun muzakki yaitu sama-sama harus muslim (orang islam). Keduanya ada di sekitar kita. Kita dengan mudahnya menjumpai mustahiq. Di sekitar kita, mulai tetangga, rekan kerja bahkan kerabat kita ada yang mustahiq. Begitu-pun muzakki, sangat gampang bagi kita untuk menjumpai mereka. Kedua-duanya ada di desa kita bahkan ada negeri kita indonesia. Kondisi mustahiq beragam. Ada yang masih biasa saja, yaitu masih mampu untuk menghidupi keluarganya walau dengan serba kekurangan. Ada juga yang sangat memprihatinkan. Hanya sekedar makanan atau bekal untuk esok hari saja ia tidak punya.

Mustahiq atau dalam bahasa lain yang lebih mudah dipahami adalah penerima, merupakan seorang yang memang berhak mendapatkan/diberi suatu harta dengan ketentuan syar’i yang berlaku. Kalau kita melihat secara keagamaan sendiri bahwa sesungguhnya antara mustahiq maupun muzakki yang terbaik keduanya adalah muzakki.

Baca Juga : PBNU AJAK MASYARAKAT AJUKAN UJI MATERI KE MAHMAKAH KONSTITUSI !!

Dalil tentang hal ini sudah tidak asing bagi kita, bahwa nabi kita Nabi Muhammad Saw., pernah barsabda bahwasannya :“tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Yang dimaksud adalah tangan di atas sebagai pemberi, tangan di bawah sebagai penerima. Menurut pemikiran saya bahwa muzakki lebih baik daripada mustahiq.

Oleh karenanya, orang baik adalah orang yang senantiasa berusaha memposisikan diri sebagai pemberi. Bukan sebaliknya. Hal ini sejalan juga dengan Alquran sebagai pedoman hidup orang islam. Ayat-ayat di dalam Alquran selalu menuntut atau memerintahkan orang islam agar memberi, bersodaqoh, ber-infak dan ber-zakat. Tidak ada di dalam Alquran, sebuah ayat yang menuntut untuk menerima. Dalam hal ini bisa saya ambil kesimpulan bahwa Alquran dan hadist nabi selalu menuntut kita (orang islam) agar senantiasa berusaha memposisikan diri sebagai pemberi yang dalam hadis nabi dianalogikan sebagai tangan di atas.

Fenomena yang sekarang kita jumpai adalah bahwa jumlah mustahiq ini sangat banyak. Kemiskinan masih masif di negara kita.Penduduk yang miskin di Indonesia sebagian besarnya di pedesaan (Erwan Agus Purwanto, “Jurnal Ilmu Sosial dan Politik” Mengkaji Potensi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk Pembuatan Kebijakan Anti Kemiskinan di Indonesia. Vol. 10 No. 3, Maret 2007, hal. 298.), Padahal negara kita adalah negara dengan penduduk muslim mayoritas. Artinya adalah masih banyak saudara kita sesama islam yang belum berposisi sebagai “tangan di atas”. Untuk itu, sangat penting mengadakan upaya yang signifikan untuk menanggulangi kemiskinan.

Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengembangkan kewirausahaan ke lapisan masyarakat menengah ke bawah. Cara ini dapat dikategorikan efektif, merujuk ke realita yang tejadi bahwa jumlah wirausahwan di Indonesia jumlahnya semakin meningkat. Untuk itu, perlu adanya koordinasi yang baik antara masyarakat menengah ke bawah dengan kalangan wirausahawan. Langkah-langkah yang dapat ditempuh dengan mengadakan seminar, motivasi dan pendampingan khusus buat masyarakat yang ingin mengembangkan usahanya.

Langkah-langkah yang harus dilakikan secara bertahap adalah; Pertama, mensosialisasikan program pemberdayaan masyarakat yang akan dilakukan dengan cara menyebarkan poster dan undangan ke masing-masing warga dari pintu ke pintu. Kedua, mengadakan pelatihan ke-media-an. Urgensi pelatihan ke-media-an ini dimunculkan sebab adanya ke-gaptek-an (gagal paham teknologi) yang sering dialami oleh masyarakat umum atau kalangan orang tua.

Dengan memiliki kemampuan dalam mengoperasikan teknologi, diharapkan bisa bersaing dengan baik. Karena usaha apa-pun zaman sekarang yang tidak melibatkan teknologi pastilah cepat atau lambat akan sirna, tereksekusi atau tersingkirkan. Ketiga, memilih dan memilah kategori masyarakat, artinya bahwa masyarakat dikategorikan berdasarkan jenis kebutuhannya. Terbagi dalam 3 (tiga) sektor, yaitu pertanian, perniagaan dan pertukangan.

Pembagian ini difungsikan untuk menentukan kebutuhan masing-masing. Dengan adanya pembagian ini akan berdampak baik pada proses pelaksanaan. Keempat, membuat acara semacam seminar yang narasumbernya dari pihak wirausahawan. Dari 3 (tiga) sektor tersebut diberi kesempatan untuk memaparkan kekurangan atas programnya masing-masing. Setelah mengemukakan masalahnya, wirausahawan memberikan wejangannya, mulai berbagi pengalaman susahnya dahulu, motivasi, meminjamkan modal, memberi solusi, sampai dengan membimbing dan mementori setiap program yang dilaksanakan masyarakat. Kelima, setelah menemukan benang merah antara ketidaksenjangan rencara dan kenyataan, barulah mulai dilakukan evaluasi/perbaikan baik program yang jangka pendek maupun program jangka panjang.

Di langkah sebelumnya masyarakat sudah dilatih tentang pengoperasian teknologi, sehingga pada langkah ini semua menggunakan teknologi. Kordinasi yang baik antara wirausahawan dan masyarakat sangat mempengaruhi hasil. Dewasa ini, tidak sedikit orang yang punya ide-ide cemerlang dalam bidang kewirausahaan terkendala finansial. Sehingga keputusan untuk membuat usaha terhalang. Hambatan lainnya adalah berupa ketiadaan orang yang mau membimbing. Dengan didampingi pembimbing, usaha masyarakat bisa lebih cepat tercapainya. Setelah usaha msyarakat tercapai, untuk selanjutnya ia ditargetkan mampu untuk menjadi pembing bagi masyarakat lingkungannya. Demikian terus menerus akan berlanjut sampai semua melakukan hal yang sama.

DAFTAR PUSTAKA

1. Erwana Agus Purwanto. 2007. “Jurnal ilmu sosial dan ilmu politik”, Jurnal UGM. Vol. 10, no. 3, maret 2007, https://jurnal.ugm.ac.id/jsp/article/view/11009/8250 (Diakses pada 30 Juli 2020, pukul 19.00 WIB.).
2. “Jumlah Pengusaha di Indonesia Meningkat, Tapi…”, 30 Juli 2020,

.
.
Oleh : Afan Abdilah
.
.
Essay ini masuk dalam daftar top 100 Essay penerima beasiswa Baznas (Baziz) Provinsi DKI Jakarta, dalam tema :“Mustahiq Menjadi Muzaki di Bidang Kewirausaha”.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *