Tauladan Kyai Dalam Membentuk Karakter Santri


hobindonesia.id Pesantren sebagai penjaga transmisi keilmuan antara Santri dengan Kiai. Peran aktif santri yang akan dijunjung tinggi dalam mengawal kedamaian yang ramah akan kesederhanaan. Di sisi lain Pesantren sebagai wadah utama dalam mengamalkan ilmu-ilmu keagamaan maupun ilmu sosial dan ilmu umum.

Sosok kiai selalu menjadi panutan santri dalam mencari ilmu, dari sosok kiai kita akan belajar banyak pengetahuan, yang sebelumnya belum kita ketahui.

Dalam islam, keteladanan utama hadir pada diri Rosulullah Saw menjadi uswatun hasanah (contoh yang baik) dan mutlak dicontoh oleh setiap umat islam. Namun figure Rosullah sebagai insankamil hampir tidak mungkin dapat ditiru generasi sekarang. Maka figure yang tepat meneladani Rasulullah pada sosok pengasuh Pesantren sesuai dengan sabda Nabi Muhammad, sebagaiamana diriwayatkan Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, dan Abu Daud. Yang artinya: “Sesungguhnya ulama ialah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu, maka barang siapa mengambil warisak tersebut ia telah mengambil bagian yang banyal”

Tauladan seorang kiai akan selalu menjadi pedoman bagi santri untuk melakukan aktifitas sehai-hari, guna mencapai cita-cita yang di inginkan. Bagaimana santri bisa taat, patuh, manut pada kiai. Begitu banyak karakter santri-santri dizaman sekarang. Mulai dari, kemandirian, kesederhanaan, sampai kebersamaan.

1) Kemandirian, menjadi salah satu aspek kepribadian santri yang sering kita jumpai di Pesantren manapun. Salah satunya di pesantren saya (Pesantren Ekonomi Darul Ucwah Jakarta). Santri selalu diajari oleh pengasuh, pengurus Pesantren untuk bisa memanage waktu. Artinya santri dituntut untuk bisa mengatur waktunya sendiri sebaik mungkin. Kapan kita waktunya mengaji, kapan kita waktunya kuliah, kapan kita waktunya kerja, semua itu seharusnya sudah kita buat jadwal dari mulai bagun tidur sampai tidur lagi. Kultur pendidikan pesantren, selalu mengajarkan sifat ‘kedewasaan’ bagi setiap santri. Bagaimana santri bisa menghadapi masalahnya.

2) Kesederhanaan, Hal biasa dan lumrah bagi sosok santri yang sedang menimba ilmu di Pesantren. Sebab dari kesederhanaan santri akan belajar qona’ah dan tidak bersikap berlebih-lebihan. Sederhana dan mandiri bukan karena tidak mampu, tapi lebih menunjukkan piribadi yang peduli sesama, pribadi yang menyadari bahwa dunia adalah sementara.

Santri akan belajar membiasakan diri untuk memandang setara terhadap sesama santri tanpa membeda-bedakan statusnya. Berangkat dari situlah, bisa mendorong sifat santri agar terbiasa dengan keadaan apa adanya dan mengajari santri untuk bisa hidup dimana saja, bisa tidur dimana saja.

3) Kebersamaan, Sikap inilah yang menjadi pembeda antara santri dan mana yang tidak santri. Ciri khas inilah timbul, karena santri akan belajar banyak hal dalam ruang lingkup Pesantren yang sama. Timbulnya interaksi dan selalu berdampingan dalam sehari semalam, menjadikan karakteristik sesama santri timbul dengan apa adanya dengan selalu bersama, makan selalu bersama, tidur bersama, sampai ngajipun bersama.

Dalam kebersamaan itulah santri akan menemukan suka dan duka. Maka dari situ, akan menjadi hal pembeda untuk memperkuat ukhuwah di antara mereka. Dari sikap itulah akan menciptakan kebersamaan, kesetiakawanan, tolong menolong dalam segala urusan.

Dari berbagai karakter sifat santri yang sudah dijelaskan, akan menjadi suatu pedoman dan ciri khas tersendiri. Dan dari situlah santri akan belajar banyak hal dan menjadikanya sosok yang tangguh dan kuat dalam menghadapi segala problematika hidupnya nanti di tengah-tengah masyarakat.

Pada intinya santri menjadi objek utama dalam mengambil proses semua itu. Santri bukan cuma dituntut untuk belajar terus menerus tentang keagamaan. Di Pesantren, kita akan diajarkan banyak hal, terutama ‘Tata Krama’, sopan santun dan transparansi keilmuan agama.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *